IPG Kota Semarang Capai 78,71, Wali Kota Soroti Peran Kunci Perempuan
IPG Semarang 78,71, Perempuan Jadi Subjek Pembangunan

IPG Kota Semarang Tembus Angka 78,71, Buktikan Perempuan Jadi Motor Perubahan

Kota Semarang mencatatkan prestasi signifikan dalam upaya pemberdayaan perempuan. Indeks Pemberdayaan Gender (IPG) di ibu kota Jawa Tengah ini berhasil mencapai angka 78,71 pada tahun 2025. Capaian ini menunjukkan tren positif yang kuat dalam melibatkan perempuan sebagai aktor utama pembangunan.

Data tersebut diungkapkan langsung oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, dalam upacara peringatan Hari Kartini ke-147 yang digelar di Halaman Balai Kota. Agustina menegaskan bahwa angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan cerminan nyata dari kontribusi perempuan di berbagai lini kehidupan masyarakat.

Kontribusi Nyata dari Sektor Kesehatan hingga Lingkungan

Menurut Agustina, tingginya IPG Semarang tidak lepas dari peran aktif perempuan dalam bidang kesehatan, lingkungan, dan ekonomi berbasis komunitas. Salah satu pilar terkuat adalah jaringan sekitar 16.000 kader Posyandu yang dengan sukarela menjaga kesehatan masyarakat di tingkat akar rumput.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"Ketika saya diundang di California State University, mereka sangat mengapresiasi bagaimana para kader Posyandu mampu menjaga kesehatan masyarakat di sekitarnya. Ini menjadi contoh bagaimana rasa tanggung jawab sosial bisa tumbuh dari masyarakat," kata Agustina dalam keterangannya, Selasa (21/4/2026).

Praktik gotong royong ini bahkan mendapat pengakuan internasional sebagai model penguatan peran masyarakat berbasis komunitas.

Gerakan Lingkungan yang Menggerakkan Ekonomi

Di luar sektor kesehatan, kontribusi perempuan juga sangat menonjol dalam gerakan pengelolaan lingkungan Semarang Wegah Nyampah melalui sistem bank sampah. Dengan keterlibatan aktif kader PKK dan berbagai komunitas, aktivitas ini tidak hanya menjaga kebersihan kota tetapi juga mendorong perputaran ekonomi masyarakat.

Agustina mengungkapkan bahwa gerakan ini telah berkontribusi pada perputaran ekonomi mencapai Rp 2,2 miliar, membuktikan bahwa pemberdayaan perempuan bisa sejalan dengan penguatan ekonomi lokal.

Komitmen Struktural melalui Kelurahan Ramah Perempuan

Komitmen Pemerintah Kota Semarang dalam pemberdayaan gender diperkuat melalui pembentukan 177 Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak yang tersebar di seluruh wilayah. Kelurahan-kelurahan ini berfungsi sebagai garda terdepan dalam memastikan perempuan dan anak mendapatkan perlindungan serta ruang untuk berkembang secara optimal.

"Kelurahan menjadi garda terdepan dalam memastikan perempuan dan anak mendapatkan perlindungan sekaligus ruang untuk berkembang," jelas Agustina mengenai program yang menjadi fondasi struktural ini.

Perempuan sebagai Subjek Pembangunan

Capaian IPG ini menjadi indikator penting bahwa perempuan di Kota Semarang telah bergeser dari sekadar objek pembangunan menjadi subjek utama perubahan. Melalui momentum Hari Kartini, pemerintah kota terus mendorong perempuan untuk meningkatkan kapasitas, berani mengambil peran kepemimpinan, dan memperluas kontribusi di berbagai bidang.

"Ketika perempuan berdaya, keluarga menjadi kuat, masyarakat menjadi tangguh, dan Kota Semarang akan semakin hebat," tutup Agustina menegaskan visi jangka panjang pemerintah kota.

Dengan berbagai program dan komitmen yang telah dijalankan, Kota Semarang menunjukkan bahwa pemberdayaan gender bukan hanya wacana, tetapi praktik nyata yang berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat dan ketangguhan kota secara keseluruhan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga