Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Material Fiber Optik, Industri Telco RI Waspada
Jakarta - Konflik geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah mulai memberikan tekanan signifikan pada industri telekomunikasi Indonesia. Dampak langsungnya kini dirasakan oleh pelaku industri fiber optik, yang menghadapi lonjakan harga bahan baku dan material kabel.
Kenaikan Harga Material Strategis
Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel), Jerry Mangasas Swandy, mengungkapkan bahwa telah terjadi peningkatan harga corning, material utama pembangunan jaringan internet nasional. "Memang ada efek domino yang tidak bisa dipisahkan dari situasi geopolitik saat ini. Konflik di Timur Tengah ikut memengaruhi pasar bahan baku fiber optik secara global," jelas Jerry kepada media pada Selasa (14/4/2026).
Jerry menambahkan bahwa gangguan rantai pasok global dan tekanan pada bahan baku industri strategis akibat konflik tersebut menjadi penyebab utama. Salah satu komponen yang mengalami kenaikan tajam adalah HDPE (High-Density Polyethylene), material pelindung kabel fiber optik yang biasanya berwarna oranye mencolok atau hitam dengan garis warna.
Lonjakan Harga HDPE Capai 17%
Menurut data yang diungkapkan Apjatel, harga HDPE mengalami kenaikan signifikan hampir 15-17%. "Kalau sebelumnya sekitar Rp 10 ribu per meter, sekarang bisa naik Rp 1.500 sampai Rp 1.700. Itu sangat signifikan," ungkap Jerry. Kenaikan ini tidak hanya berdampak pada biaya produksi, tetapi juga berpotensi menghambat pembangunan infrastruktur telekomunikasi nasional.
Selain faktor pasokan, kondisi kawasan strategis seperti Selat Hormuz juga dinilai ikut memengaruhi persepsi pasar dan distribusi logistik global. Gangguan pada jalur distribusi ini pada akhirnya berdampak langsung pada harga material infrastruktur telekomunikasi, termasuk fiber optik.
Dampak pada Sektor Digital Nasional
Pelaku industri melalui Apjatel menyatakan kekhawatiran terhadap dampak jangka panjang kenaikan harga material ini. Mereka berharap pemerintah dapat terus memantau perkembangan situasi global secara cermat. Pemantauan yang intensif diperlukan agar dampak negatif terhadap sektor digital nasional dapat diminimalkan, terutama dalam menjaga stabilitas pembangunan jaringan internet.
Industri telekomunikasi Indonesia, yang sedang gencar membangun infrastruktur digital, kini harus menghadapi tantangan baru dari ketidakstabilan geopolitik global. Kenaikan harga material fiber optik ini berpotensi memperlambat ekspansi jaringan dan meningkatkan biaya operasional perusahaan telekomunikasi.



