Indosat Siap Dukung Penuh Registrasi SIM Card Biometrik dengan Pengenalan Wajah
Operator telekomunikasi Indosat Ooredoo Hutchison menyatakan kesiapan penuh dalam mendukung penerapan registrasi SIM card berbasis biometrik menggunakan data pengenalan wajah atau face recognition. Bahkan, perusahaan ini mengungkapkan bahwa sistem tersebut telah lebih dulu diterapkan secara sukarela sejak tahun lalu, dengan ratusan ribu pelanggan telah bergabung.
Kesiapan Sistem dan Jumlah Pelanggan yang Telah Registrasi
Chief Legal & Regulatory Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Reski Damayanti, menjelaskan bahwa dari sisi sistem dan keamanan, Indosat berada dalam posisi siap untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang akan mengaktifkan nomor seluler prabayar. "Untuk sistem, alhamdulillah sudah siap. Sistem security-nya juga sudah tersertifikasi ISO," ujar Reski dalam peluncuran Registrasi Biometrik di Gedung Sarinah, Jakarta, Selasa (27/2/2026).
Ia menambahkan bahwa Indosat telah menguji dan menerapkan registrasi biometrik pengenalan wajah sejak Maret 2025, meskipun pada tahap awal penerapannya masih bersifat sukarela bagi pelanggan. "Kalau bisa dibilang, kita sudah siap bahkan sudah menerapkan sejak Maret 2025. Waktu itu sifatnya masih voluntary basis. Yang mau biometrik silakan," jelasnya.
Hingga saat ini, jumlah pelanggan yang secara sukarela melakukan registrasi biometrik disebut mencapai kurang lebih 400 ribu pengguna. Angka ini menunjukkan respons positif dari masyarakat terhadap inisiatif keamanan digital ini.
Latar Belakang dan Tujuan Penerapan Biometrik
Reski menegaskan bahwa penerapan biometrik bukan muncul tiba-tiba, melainkan berangkat dari kebutuhan bersama untuk menekan maraknya kejahatan digital, khususnya penipuan dan spam. "Ini bukan ide siapa-siapa. Memang dari pemerintah melihat sudah ada kebutuhan. Dari sisi telco, termasuk Indosat, ini jadi concern besar," ujarnya.
Untuk menjangkau pelanggan di berbagai daerah, Indosat memastikan bahwa registrasi biometrik dapat dilakukan melalui berbagai kanal, termasuk gerai dan outlet resmi. "Kami sudah lakukan uji coba di gerai dan outlet-outlet. Selain itu, self-registration juga bisa dilakukan kalau perangkatnya punya kamera," jelas Reski.
Efektivitas Biometrik dan Upaya Pemberantasan Scam
Terkait efektivitas biometrik dalam menekan penipuan, Reski mengakui bahwa tidak ada solusi tunggal untuk memberantas scam. Namun, biometrik diyakini dapat mempersempit ruang penyalahgunaan identitas. "Ini bukan cuma preventif. Perlu enforcement, legal enforcement. Telco punya tanggung jawab preventif, tapi kita butuh kerja sama semua pihak untuk berperang melawan scam," tegasnya.
Indosat sebelumnya telah menghadirkan fitur anti-spam dan anti-scam yang membantu pelanggan mengatasi penipuan digital pada Agustus 2025. Dalam kesempatan itu, Reski juga memaparkan data dari Global Anti Scam Alliance (GASA) Indonesia yang menunjukkan potensi kerugian akibat scam di Indonesia jauh lebih besar dari angka resmi.
"Data OJK sekitar Rp9 triliun itu berdasarkan laporan. Tapi dari survei GASA, potensi kerugian di Indonesia tahun lalu bisa mencapai Rp 49 triliun," ungkap Reski. Ia menambahkan bahwa banyak korban penipuan enggan melapor karena nominal kerugian dianggap kecil, sehingga tidak tercatat dalam data resmi.
Pengembangan Fitur Keamanan di Masa Depan
Ke depan, Indosat juga tengah mengkaji pengembangan lanjutan fitur SATSPAM, termasuk kemungkinan pemblokiran otomatis untuk meningkatkan kenyamanan konsumen. "Sedang kami lihat pengembangannya, supaya konsumen semakin nyaman," pungkas Reski.
Dengan langkah-langkah ini, Indosat berkomitmen untuk terus mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan keamanan digital dan mengurangi risiko kejahatan siber di Indonesia.



