Ancaman Putusnya Kabel Bawah Laut dan Upaya Mitigasi Operator Triasmitra
Infrastruktur kabel bawah laut masih menghadapi ancaman serius berupa risiko putus yang dapat mengganggu akses internet secara signifikan. Risiko ini terutama berasal dari aktivitas pelayaran dan kondisi alam yang tidak terduga. Untuk mengatasi tantangan tersebut, Ketrosden Triasmitra Indonesia (Triasmitra) telah menyiapkan sejumlah langkah preventif yang komprehensif.
Pemantauan dan Peringatan Real-Time
Direktur Operasional Katrosden Triasmitra, Dani Samsul Ependi, mengungkapkan bahwa insiden kabel bawah laut putus merupakan kejadian yang cukup sering terjadi. Namun, risiko tersebut dapat ditekan melalui pengelolaan dan pemantauan yang konsisten. "Di tempat kami cukup terkelola karena kami melakukan langkah preventif, salah satunya dengan memonitor seluruh kabel laut yang kami miliki," ujar Dani dalam konferensi pers secara virtual pada Rabu, 21 Januari 2026.
Sistem pemantauan yang diterapkan memungkinkan perusahaan mendeteksi kapal yang melintas di dekat jalur kabel laut. Jika terindikasi berisiko, Triasmitra dapat memberikan peringatan langsung agar kapal tidak menjatuhkan jangkar di area tersebut. "Kami bisa melihat kapal yang mendekati jalur kabel, lalu memberi peringatan agar tidak membuang jangkar karena terdapat kabel laut," jelas Dani.
Patroli dan Sosialisasi Intensif
Selain pemantauan teknologi, Triasmitra juga menyiagakan tim patroli yang tersebar di 31 titik pada jalur pelayaran dan wilayah yang rawan gangguan kabel. Perusahaan secara aktif melakukan sosialisasi kepada nelayan dan pelaku maritim lainnya terkait keberadaan dan fungsi vital infrastruktur kabel bawah laut. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan mengurangi insiden yang disebabkan oleh ketidaktahuan.
Penurunan Insiden dan Perlindungan Hukum
Direktur Utama Triasmitra, Titus Dondi, menyebut bahwa kasus kabel laut putus banyak terjadi pada periode sebelum 2024. Namun, sejak 2025 hingga awal 2026, insiden tersebut berhasil ditekan secara signifikan. "Mulai 2025 sampai tahun ini, kabel putus sudah bisa kami tekan. Kami memiliki lima sistem kabel bawah laut yang tersebar di Jakarta, Singapura, Dumai, Medan, Surabaya, dan Bali, dengan patroli dan sosialisasi yang aktif," ungkap Titus.
Ia menambahkan bahwa Triasmitra mampu memenuhi Service Level Agreement (SLA) pemulihan layanan dengan lebih cepat. Titus menegaskan bahwa kabel bawah laut merupakan infrastruktur vital yang dilindungi undang-undang. "Dalam beberapa kasus, kabel putus yang disebabkan aktivitas kapal diproses sesuai hukum pidana maupun perdata. Lebih dari 10 kasus kabel kami dapat diselesaikan dengan baik," katanya.
Proyek Pengembangan Infrastruktur
Pada awal 2026, Triasmitra mengumumkan telah menjalankan proyek Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Rising 8 sepanjang 1.128,5 kilometer yang menghubungkan Jakarta-Batam-Singapura. Proyek ini digelar untuk memenuhi peningkatan kebutuhan akses internet dan menelan biaya sekitar USD 80 juta atau setara Rp 1,36 triliun dengan asumsi kurs USD 1 = Rp 16.966.
Setelah merampungkan SKKL Rising 8, Triasmitra menargetkan pembangunan SKKL Indonesia Tengah sepanjang 8.723 kilometer. Proyek ambisius ini akan menghubungkan berbagai wilayah strategis:
- Sanur (Bali)
- Kawinda Nae
- Labuan Bajo
- Makassar
- Selayar
- Baubau
- Wakatobi
- Kendari
- Morowali
- Luwuk
Untuk proyek SKKL Indonesia Tengah, Triasmitra mengalokasikan anggaran sekitar USD 350 juta atau setara Rp 5,9 triliun. Pengembangan infrastruktur ini diharapkan dapat memperkuat konektivitas internet di wilayah tengah Indonesia dan mendukung pertumbuhan ekonomi digital.



