Iran Gunakan Taktik Canggih untuk Mengacaukan Layanan Starlink di Tengah Gelombang Demonstrasi
Pemerintah Iran diketahui telah memutus akses internet dan komunikasi pada tanggal 8 Januari lalu, sebagai upaya untuk meredam gelombang demonstrasi yang terjadi di negara tersebut. Jaringan kemudian dipulihkan kembali sebagian dengan pembatasan yang sangat ketat. Namun, Iran juga berusaha memutus hubungan komunikasi internasional terakhir yang masih tersedia, yaitu layanan internet satelit Starlink milik SpaceX. Perusahaan teknologi luar angkasa itu sebelumnya dikabarkan menggratiskan pemakaian Starlink di Iran sebagai respons terhadap situasi tersebut.
Pengacauan Sinyal GPS Sebagai Metode Klasik
Starlink, yang menyediakan akses internet melalui konstelasi satelit, sebelumnya dianggap berada di luar jangkauan penyensoran pemerintah. Namun, dalam beberapa hari terakhir, layanan ini menjadi sasaran pengacauan sinyal atau jamming yang sangat mengganggu konektivitas. Gangguan GPS terpantau di Teheran dan sekitarnya tepat pada tanggal 8 Januari, hari di mana internet diputus secara nasional, menurut data dari pemantauan gpsjam.org. Hal ini berdampak langsung pada layanan Starlink karena terminal pengguna biasanya memerlukan sinyal GPS untuk menetapkan lokasi geografis agar dapat berkomunikasi dengan satelit di atas.
"Starlink menggunakan posisi GPS dari terminal untuk mengarahkan antenanya ke satelit," jelas tim peneliti telekomunikasi di akun X @giammaiot2. "Mengacaukan sinyal GPS adalah cara klasik untuk melumpuhkan Starlink," tambah Kave Salamatian, profesor dari Universitas Savoie di Prancis yang meriset geopolitik internet. Meskipun demikian, pembaruan perangkat lunak Starlink yang ditambahkan setelah Rusia mengacaukan sinyal di Ukraina dan Laut Hitam memungkinkan pengguna mengabaikan sinyal GPS dengan mengandalkan satelit Starlink sendiri yang mengidentifikasi lokasi menggunakan metode triangulasi. Namun, solusi ini memiliki batasan karena membuat pengguna menjadi kurang mobile.
Interferensi Aktif dan Teknologi Pengacauan
Victoria Samson, direktur Secure World Foundation, menyebutkan bahwa memburuknya koneksi Starlink di Iran beberapa hari terakhir mengakibatkan kehilangan paket data sebesar 30 hingga 80 persen. Salamatian menilai kemungkinan besar hal ini berasal dari gangguan yang lebih canggih, yaitu "interferensi aktif". Interferensi aktif melibatkan penjenuhan saluran transmisi satelit dengan mengirim "noise" atau sinyal palsu ke satelit dalam waktu yang cukup lama, sehingga terminal yang terhubung bisa terputus secara paksa.
"Teorinya, ini dapat membuat satelit tidak dapat digunakan oleh terminal," kata Radim Badsi, CEO Ground Space. Namun, mengacaukan saluran utama Starlink memang sulit karena terdiri dari banyak satelit yang terus bergerak. "Mengarahkan noise beam yang kuat langsung ke satelit di langit memerlukan beberapa antena parabola besar yang terus melacak satelit. Rusia mencoba pendekatan ini di Ukraina, tapi jammers tersebut dihancurkan karena sulit disembunyikan," cetus Oleg Kutkov, insinyur Ukraina yang ahli dalam teknologi Starlink.
Kemampuan Domestik dan Dukungan Teknis
Pertanyaan besar muncul mengenai bagaimana pihak berwenang Iran mampu melakukan gangguan semacam ini. Iran diketahui memiliki jammer militer Rusia di gudang senjatanya, seperti Murmansk-BN, yang mampu mengganggu sinyal GPS. Ahli di balik akun @giammaiot2 berpendapat bahwa sistem peperangan elektronik Iran, Cobra-V8, yang mirip dengan 1RL257E Krasukha-4 buatan Rusia, mungkin digunakan untuk mengacaukan frekuensi transmisi dari terminal Starlink.
Namun, gangguan terhadap Starlink mungkin juga diciptakan menggunakan teknologi sipil yang belum tentu berasal dari luar negeri. "Penjelasan paling sederhana adalah mereka melakukannya secara internal. Iran punya keterampilan mengacaukan Starlink. Terlebih karena gangguan yang kita lihat saat ini di Iran berbeda dengan apa yang kita lihat dalam perang di Ukraina. Iran memiliki universitas sangat bagus yang berspesialisasi dalam telekomunikasi seperti Universitas Imam Hossein serta Universitas Sharif," kata Salamatian.
Dinamika Kucing-kucingan dan Dampak Nyata
Perwakilan Nasnet, komunitas Starlink terbesar di Iran, menggambarkan penurunan layanan secara parsial akibat pengacauan ini. Pengguna Starlink mampu mem-bypass gangguan untuk sementara waktu, sebagian berkat dukungan teknis langsung dari Starlink. "Pembaruan software secara signifikan mengurangi kehilangan paket. Meski demikian, kondisi jaringan tetap tidak stabil, dengan fluktuasi periodik dan perburukan sesekali. Ini mencerminkan dinamika 'kucing-kucingan' di mana kedua pihak terus menyesuaikan pendekatan teknis mereka," cetus mereka.
Berkat pembaruan firmware, Starlink kini memiliki kemampuan untuk mentransfer sinyal ke satelit lain jika satelit yang sedang digunakan diganggu. Ini memungkinkan lalu lintas internet dialihkan dari satelit yang macet ke satelit lain yang masih berfungsi. Hilangnya sinyal yang sebelumnya mencapai 70 persen, sekarang berkurang menjadi sekitar 30 persen. Namun, Starlink bukanlah solusi ajaib untuk mengatasi pemadaman internet skala besar. Menurut Amir Rashidi, pakar hak digital Iran, hanya ada sekitar 50.000 terminal Starlink di Iran, yang melayani sebagian kecil dari 90 juta penduduk negara tersebut.



