Ironi Komunikasi Digital: Mudah Terhubung, Makin Jarang Berdialog
Ironi Komunikasi Digital: Mudah Terhubung, Jarang Berdialog

KETIKA komunikasi semakin mudah dilakukan, justru tindakan komunikatif semakin jarang dipraktikkan. Kalimat di atas mungkin terdengar seperti paradoks, tapi di sanalah letak ironi terbesar masyarakat digital kita hari ini.

Janji Teknologi yang Tak Terealisasi

Selama beberapa dekade terakhir, kita dibuai janji manis teknologi informasi. Internet, media sosial, dan aplikasi percakapan diagungkan sebagai jembatan yang akan mendemokratisasi komunikasi dan memperluas ruang dialog. Kenyataannya, kita memang hidup di era dengan volume komunikasi tertinggi sepanjang sejarah peradaban. Namun sayangnya, kualitas komunikasi kita belum tentu berbanding lurus dengan angka tersebut.

Dampak pada Masyarakat

Fenomena ini menimbulkan berbagai dampak negatif, mulai dari meningkatnya kesalahpahaman, polarisasi opini, hingga menurunnya empati. Masyarakat lebih sering terpapar informasi dangkal dan terpecah dalam gelembung filter masing-masing, sehingga dialog yang mendalam dan saling menghargai semakin langka.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Menurut pengamat komunikasi, kondisi ini memerlukan kesadaran kolektif untuk kembali mempraktikkan komunikasi yang bermakna, tidak hanya sekadar bertukar pesan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga