Aktor China Xu Peng Kehilangan Pekerjaan Akibat Dominasi AI di Industri Drama Pendek
Xu Peng Kehilangan Pekerjaan Akibat AI di Drama Pendek

Aktor China Xu Peng (30) mengalami penurunan pendapatan signifikan akibat maraknya penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam produksi drama pendek. Xu Peng meraih popularitas melalui drama pendek vertikal yang sempat berkembang pesat, namun kini industri tersebut mulai dikuasai AI.

Jadwal Padat di Puncak Karier

Menurut laporan HK01, pada puncak kariernya, Xu Peng sering kali harus menjalani syuting selama 15 hingga 16 jam sehari. Namun, dengan hadirnya teknologi AI, banyak peran yang sebelumnya diperankan oleh aktor manusia kini digantikan oleh karakter virtual atau hasil generasi AI. Hal ini menyebabkan berkurangnya tawaran pekerjaan untuk aktor seperti Xu Peng.

Xu Peng mengaku bahwa perubahan ini sangat terasa dalam beberapa bulan terakhir. "Dulu saya bisa menerima beberapa proyek dalam sebulan, sekarang mungkin hanya satu atau dua, itupun dengan durasi yang lebih pendek," ujarnya seperti dikutip dari HK01.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dampak AI pada Industri Drama Pendek

Industri drama pendek China, yang dikenal dengan format vertikal dan durasi singkat, telah menjadi lahan subur bagi aktor-aktor baru. Namun, efisiensi biaya yang ditawarkan AI membuat produser lebih memilih menggunakan teknologi daripada merekrut aktor manusia. AI tidak hanya mampu menghasilkan karakter visual, tetapi juga dapat menulis naskah dan menyutradarai adegan secara otomatis.

Fenomena ini tidak hanya dialami oleh Xu Peng. Banyak aktor dan kru produksi drama pendek yang mulai merasakan dampak negatif dari dominasi AI. Sebuah survei internal di industri tersebut menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam produksi drama pendek meningkat hingga 40% dalam setahun terakhir.

Masa Depan yang Tidak Pasti

Xu Peng kini harus beradaptasi dengan realitas baru. Ia mulai mempertimbangkan untuk beralih ke industri lain atau meningkatkan keterampilan agar tetap relevan. "Saya mungkin perlu belajar tentang teknologi AI agar bisa bekerja sama, bukan justru digantikan," katanya.

Meskipun demikian, Xu Peng tetap optimis bahwa kreativitas manusia masih memiliki tempat. "AI bisa meniru, tetapi tidak bisa menciptakan emosi yang sebenarnya. Itulah yang membedakan kita," pungkasnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga