Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menjadi sorotan dan menuai gelombang kecaman dari berbagai pihak. Hal ini terjadi setelah ia mengunggah sebuah gambar yang dibuat dengan teknologi Artificial Intelligence (AI) yang secara kontroversial menampilkan dirinya menyerupai sosok Yesus Kristus.
Konten Kontroversial di Platform Media Sosial
Gambar tersebut sempat muncul di platform media sosial Truth Social, yang dimiliki oleh Trump sendiri, sebelum akhirnya dihapus dari unggahan. Laporan mengenai insiden ini pertama kali diungkap oleh BBC pada Selasa, 14 April 2026, yang menyoroti reaksi publik yang berkembang pesat.
Detail Visual Gambar yang Memicu Polemik
Dalam gambar berbasis AI itu, Trump divisualisasikan mengenakan jubah berwarna putih dengan selendang merah yang disampirkan dengan anggun di bahunya. Elemen visual lainnya menambah kontroversi: tangan kirinya digambarkan memancarkan cahaya terang, sementara tangan kanannya diletakkan di atas kepala seorang pria yang terbaring di ranjang rumah sakit. Adegan ini menciptakan kesan seolah-olah Trump sedang melakukan tindakan penyembuhan, mirip dengan narasi mukjizat dalam tradisi Kristen.
Penggunaan teknologi AI untuk menciptakan gambar semacam ini telah memicu perdebatan luas, tidak hanya di kalangan politik tetapi juga dalam ranah agama dan etika digital. Banyak pengamat menilai unggahan ini sebagai upaya untuk membangun citra religius yang berpotensi menyesatkan, terutama di tengah iklim politik yang panas menjelang pemilihan umum.
Reaksi dan Implikasi dari Unggahan Tersebut
Kecaman terhadap Trump datang dari berbagai kelompok, termasuk organisasi keagamaan, aktivis hak digital, dan politisi dari pihak oposisi. Mereka mengkritik penggunaan simbol-simbol suci untuk kepentingan pribadi atau politik, yang dianggap tidak pantas dan dapat merusak nilai-nilai spiritual.
Insiden ini juga menyoroti peran platform media sosial seperti Truth Social dalam menyebarkan konten yang sensitif. Penghapusan gambar tersebut menimbulkan pertanyaan tentang moderasi konten dan tanggung jawab pemilik platform dalam mencegah penyebaran materi yang berpotensi menyinggung atau memecah belah.
Sebagai figur publik yang sering kali menciptakan kontroversi, Trump telah berulang kali menggunakan media sosial untuk menyampaikan pesan-pesan politiknya. Namun, unggahan terbaru ini dinilai melampaui batas, dengan banyak pihak menyerukan pertanggungjawaban etis atas penggunaan teknologi AI dalam konteks yang demikian.



