XLSmart memastikan akan agresif mengikuti lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Langkah ini sejalan dengan ambisi operator seluler tersebut untuk memperluas cakupan layanan 5G secara lebih merata di Indonesia.
Dalam situasi ekonomi global yang tidak menentu, Director & Chief Regulatory Officer Merza Fachys mengungkapkan bahwa perusahaan tertarik menguasai kedua spektrum tersebut karena dinilai strategis untuk pengembangan jaringan generasi kelima.
"Saya rasa kita semua tahu bahwa Komdigi telah mengumumkan untuk melakukan lelang untuk spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz. XLSmart tertarik untuk dapat kedua spektrum tersebut dan tentu saja kita inginkan bahwa lelang ini akan dapat berjalan lancar sesuai dengan rencana," ujar Merza di kantor XLSmart, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Harapan Proses Lelang yang Lebih Sederhana
Merza mengharapkan proses lelang spektrum tersebut bisa berlangsung lebih sederhana dan cepat mengingat peserta yang ikut merupakan tiga operator seluler besar yang sudah dikenal pemerintah.
"Karena memang pesertanya adalah tiga operator seluler yang menurut kami sudah sangat dikenal oleh pemerintah, sehingga tidak harus melakukan banyak hal yang mungkin berbeda dengan lelang sebelumnya," ungkapnya.
Merza menilai percepatan proses lelang penting agar implementasi 5G bisa segera dinikmati masyarakat secara luas pada tahun ini. Spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz disebut menjadi salah satu kunci utama untuk mempercepat pemerataan jaringan 5G nasional.
Keunggulan Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz
Frekuensi 700 MHz sendiri dikenal ideal untuk memperluas jangkauan sinyal hingga ke wilayah suburban dan pedesaan karena memiliki karakteristik cakupan luas dan penetrasi jaringan yang lebih baik. Sementara pita 2,6 GHz dinilai mampu menghadirkan kapasitas besar untuk mendukung trafik data tinggi di kawasan perkotaan.
Kondisi Keuangan Perusahaan
Di sisi lain, Direktur & Chief Financial Officer Antony Susilo mengakui perusahaan masih membukukan kerugian pada tahun 2025. Namun, menurutnya kondisi tersebut bersifat sementara akibat biaya integrasi jaringan pasca merger dan percepatan depresiasi perangkat lama.
"Kerugian itu one time karena ada biaya integrasi jaringan dan juga biaya percepatan depresiasi," kata Antony.
Ia menjelaskan percepatan depresiasi dilakukan terhadap sejumlah perangkat jaringan lama milik XL sebelum merger dengan Smartfren yang kini tidak lagi digunakan. Meski demikian, Antony menegaskan kondisi tersebut tidak mengurangi optimisme perusahaan untuk tetap ikut dalam lelang frekuensi strategis tersebut.
"Nanti kami akan tetap ikutan, pendanaannya tentunya kita dari kas operasional," ucapnya.



