Kapolri Ingatkan Ancaman Serius Deepfake dan AI, Media Diminta Jadi Penjernih Informasi
Kapolri Soroti Bahaya Deepfake dan AI, Media Diminta Jadi Penjernih

Kapolri Soroti Ancaman Serius Teknologi Deepfake dan Kecerdasan Buatan

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menekankan bahaya serius yang ditimbulkan oleh teknologi deepfake dan kecerdasan buatan (AI) dalam penyebaran informasi palsu. Dalam pernyataannya, ia mengingatkan bahwa konten yang dimanipulasi secara digital ini berpotensi memicu konflik sosial dan mengganggu stabilitas nasional jika tidak dikelola dengan baik.

Media Diimbau Berperan Sebagai Penjernih Informasi

Listyo Sigit Prabowo secara khusus meminta media massa untuk mengambil peran aktif sebagai penjernih informasi di tengah maraknya konten palsu yang beredar. Ia menegaskan bahwa media memiliki tanggung jawab besar dalam memverifikasi dan menyajikan berita yang akurat, sehingga dapat mencegah penyebaran hoaks dan deepfake yang meresahkan masyarakat.

"Dalam era digital ini, kecepatan penyebaran informasi seringkali mengalahkan akurasi. Oleh karena itu, media harus menjadi garda terdepan dalam memastikan bahwa setiap informasi yang disebarkan telah melalui proses verifikasi yang ketat," ujar Kapolri.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Potensi Dampak Negatif Deepfake dan AI

Kapolri menjelaskan bahwa teknologi deepfake, yang memungkinkan pembuatan video atau audio palsu yang terlihat sangat nyata, dapat digunakan untuk tujuan yang merugikan, seperti:

  • Menyebarkan berita bohong yang memicu kepanikan massal
  • Merusak reputasi individu atau institusi dengan konten yang dimanipulasi
  • Memanipulasi opini publik menjelang momen-momen penting seperti pemilu

Selain itu, kecerdasan buatan juga dapat dimanfaatkan untuk menciptakan bot yang menyebarkan informasi palsu secara otomatis dan masif, sehingga memperparah situasi.

Langkah-Langkah yang Perlu Diambil

Untuk mengantisipasi ancaman ini, Kapolri menyarankan beberapa langkah, antara lain:

  1. Peningkatan literasi digital masyarakat agar dapat membedakan informasi asli dan palsu
  2. Kolaborasi antara pemerintah, media, dan platform digital dalam memerangi konten deepfake
  3. Penguatan regulasi yang mengatur penggunaan teknologi AI dan deepfake untuk mencegah penyalahgunaan

Ia juga mengapresiasi inisiatif media yang telah menerapkan fact-checking secara ketat dan mendorong lebih banyak lembaga untuk mengikuti langkah serupa.

Dengan kesadaran akan bahaya teknologi ini, diharapkan semua pihak dapat bekerja sama menjaga ekosistem informasi yang sehat dan terpercaya di Indonesia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga