BSSN Uji Sistem Keamanan untuk Lindungi Data Nasional di Era Digital
BSSN Uji Sistem Keamanan Lindungi Data Nasional

Deputi Bidang Operasi Keamanan Siber dan Sandi Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Mayjen TNI Bondan Widiawan menegaskan bahwa keamanan data menjadi prioritas utama di era digitalisasi dan teknologi saat ini. Dalam diskusi R17 Podcast Show (RPS) Vol. 04 bertema "Shaping Secure Data Intelligence for Digital Resilience" di Jakarta, Kamis (23/4/2026), ia mengungkapkan bahwa BSSN telah memiliki laboratorium khusus untuk menguji berbagai sistem keamanan.

Pengembangan Laboratorium Keamanan BSSN

Bondan menjelaskan bahwa pengembangan laboratorium tersebut telah dimulai sejak tahun 2017 dan kini sudah mulai memberikan layanan kepada publik. "Pengembangan sudah kami mulai sejak 2017, dan saat ini sudah mulai kami berikan layanannya," ujar Bondan. Ia menambahkan bahwa tanggung jawab menjaga data sangat besar karena masih banyak pihak yang menggunakan protokol keamanan model lama seperti SSL/TLS. SSL (Secure Sockets Layer) dan TLS (Transport Layer Security) adalah protokol standar yang mengenkripsi komunikasi antara browser dan server.

Bondan memperingatkan bahwa profiling kini sangat mudah dilakukan. "Dari sebuah foto saja, kita bisa mengetahui identitas seseorang, lokasi rumah, dan informasi lainnya," katanya. Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, solusi yang ditawarkan adalah migrasi ke post-quantum cryptography, mengikuti standar seperti NIST (National Institute of Standards and Technology).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Keamanan Data sebagai Investasi

Sekretaris Jenderal Komdigi, Ismail, menambahkan bahwa biaya menjaga keamanan memang terlihat besar, namun dampak pelanggaran keamanan bisa meruntuhkan fondasi perusahaan yang telah lama dibangun. "Ketika kita berbicara tentang keamanan, perubahan paradigma dari sekadar cost menjadi investment bukanlah hal yang mudah. Ini perlu didiskusikan secara serius," ujar Ismail. Ia merujuk pada laporan UNODC yang menyebut kerugian akibat penipuan di Asia Timur dan Asia Tenggara pada tahun 2023 mencapai 18 hingga 37 miliar dolar AS, dan Indonesia kemungkinan terdampak besar. Menurut Europol, pelaku kejahatan kini berevolusi menjadi broker data skala besar yang mengeksploitasi data pribadi. "Ini menunjukkan bahwa ancaman yang kita hadapi saat ini sudah sangat serius," tegas Ismail.

Kolaborasi Menjadi Kunci

CEO R17 Group, Hengky Witarsa, menekankan bahwa banyaknya serangan dunia maya tidak bisa dianggap sepele. Kolaborasi antar pemangku kepentingan menjadi kunci dalam membangun ketahanan digital nasional. "Ketahanan digital hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi nyata antara regulator dan industri. Kami mendorong pendekatan secure-by-design agar inovasi bisnis berjalan seiring dengan perlindungan data," pesan Hengky.

Country Manager Cyble, Rangga F, menambahkan bahwa meningkatnya jejak digital memperbesar risiko terhadap aset data, terutama dengan maraknya aktivitas di forum dan marketplace dark web. Teknologi pemantauan dark web menjadi kunci untuk meningkatkan visibilitas dan kecepatan deteksi ancaman. Sementara itu, General Manager Virtus Technology Indonesia, Wisnu Nursahid, CISSP, menekankan bahwa cyber resilience kini menjadi kebutuhan utama organisasi. "Pendekatan keamanan berbasis AI mampu meningkatkan akurasi deteksi, mempercepat respons, serta memperkuat perlindungan tanpa menghambat operasi bisnis," ujar Wisnu.

Ke depan, penguatan ketahanan digital Indonesia membutuhkan langkah strategis berkelanjutan, mulai dari percepatan pembentukan badan pengawas data, penguatan koordinasi lintas lembaga, hingga investasi dalam pengembangan talenta dan teknologi. Melalui R17 Podcast Show, R17 Group berkomitmen mendorong kolaborasi nyata untuk menjawab tantangan saat ini dan membangun fondasi kuat bagi keamanan data dan kedaulatan digital Indonesia di masa depan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga