Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, melontarkan ancaman keras terhadap Lebanon dengan mengatakan bahwa "api akan membakar seluruh negeri" jika kelompok Hizbullah terus melanggar gencatan senjata. Pernyataan ini disampaikan saat gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan Hizbullah diwarnai dengan tuduhan pelanggaran dari kedua belah pihak.
Ancaman Katz terhadap Hizbullah dan Lebanon
Dalam pertemuan dengan Utusan Khusus PBB untuk Lebanon, Jeanine Hennis-Plasschaert, Katz secara tegas menyebut pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, sedang "bermain api". "Naim Qassem sedang bermain api, dan api itu akan membakar Hizbullah dan seluruh Lebanon," kata Katz dalam pernyataan yang dirilis oleh kantornya pada Senin (27/4/2026).
Katz juga mengecam pemerintah Lebanon yang dianggapnya "terus berlindung di bawah sayap Hizbullah". Ia memperingatkan bahwa "api akan berkobar dan melahap pohon-pohon cedar Lebanon," sebuah simbol nasional negara tersebut. Lebih lanjut, ia menuduh Presiden Lebanon Joseph Aoun "mempertaruhkan masa depan Lebanon" dengan tidak mengendalikan Hizbullah.
Eskalasi Militer dan Tuduhan Pelanggaran
Ancaman Katz muncul dua hari setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan eskalasi militer terhadap Beirut sebagai respons atas serangan Hizbullah. Katz menegaskan bahwa Israel tidak akan mentolerir situasi di mana gencatan senjata berlangsung bersamaan dengan serangan Hizbullah terhadap pasukan Israel di Lebanon selatan dan wilayah utara Israel. Ia mengklaim bahwa dirinya dan Netanyahu telah menginstruksikan pasukan Israel untuk "merespons dengan tembakan dahsyat terhadap Hizbullah jika terjadi kerusakan, ancaman, atau pelanggaran kedaulatan Israel".
Sementara itu, Presiden Lebanon Joseph Aoun menyebut gencatan senjata sebagai "langkah pertama dan penting" untuk negosiasi selanjutnya dengan Israel. Ia mengatakan bahwa posisi ini telah disampaikan kepada Amerika Serikat yang menjadi mediator antara Beirut dan Tel Aviv.
Korban dan Pengungsian Akibat Serangan Israel
Menurut data resmi pemerintah Lebanon, lebih dari 2.500 orang tewas dan lebih dari 7.750 orang lainnya luka-luka akibat serangan Israel sejak 2 Maret 2026. Lebih dari 1,6 juta orang terpaksa mengungsi akibat gempuran militer Israel di berbagai wilayah Lebanon.
Gencatan Senjata yang Rapuh
Gencatan senjata selama 10 hari mulai berlaku pada 17 April 2026, kemudian diperpanjang tiga minggu pada 24 April setelah pembicaraan yang dimediasi AS. Namun, kedua belah pihak saling menuduh melakukan pelanggaran. Hizbullah melancarkan serangan drone ke posisi Israel di Lebanon selatan dan Israel utara dengan alasan membalas pelanggaran Israel. Awal pekan ini, pemimpin Hizbullah Naim Qassem menolak negosiasi langsung dengan Israel, menyebutnya sebagai "dosa besar" yang akan menggoyahkan Lebanon.



