Iran Kembali Tembakkan Rudal Balistik ke Pangkalan AS di Timur Tengah
Iran Tembakkan Rudal Balistik ke Pangkalan AS di Timur Tengah

Serangan Baru Iran

Pasukan militer Iran kembali meluncurkan serangan udara ke pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah pada Selasa, 28 Juli 2026 waktu setempat. Serangan ini dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang menembakkan sejumlah rudal balistik dalam upaya serangan mendadak terhadap pasukan AS yang berpangkalan di kawasan tersebut. Menurut pernyataan Komando Pusat AS (CENTCOM) yang dirilis pada Rabu, 29 Juli 2026, serangan terjadi pada pukul 17.45 waktu setempat.

"Pada pukul 17.45 waktu setempat hari ini, pasukan Korps Garda Revolusi Islam meluncurkan sejumlah rudal balistik dari Iran dalam upaya serangan mendadak terhadap pasukan AS yang berpangkalan di Timur Tengah," tulis CENTCOM dalam pernyataan resminya yang dikutip oleh AFP. Serangan ini menjadi yang pertama setelah kedua negara sepakat melakukan jeda pertempuran selama akhir pekan.

Klaim CENTCOM: Semua Rudal Dicegat

Pihak militer AS dengan cepat menanggapi serangan tersebut. CENTCOM menyatakan bahwa seluruh rudal yang diluncurkan Iran berhasil dicegat dan tidak ada kerusakan berarti yang dilaporkan. "Seluruh rudal Iran berhasil dicegat," tambah pernyataan tersebut, tanpa merinci wilayah pangkalan mana yang menjadi sasaran. Keberhasilan intersepsi ini menunjukkan kesiapan sistem pertahanan udara AS di kawasan Timur Tengah, yang telah diperkuat selama beberapa pekan terakhir.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Meskipun tidak ada kerusakan signifikan, serangan ini tetap meningkatkan ketegangan di kawasan. Iran sebelumnya telah melancarkan rentetan serangan rudal dan drone yang menyasar sekutu Washington di kawasan Teluk, sejalan dengan eskalasi yang dimulai sejak pertengahan Juli.

Latar Belakang Konflik

Eskalasi terbaru dimulai setelah Iran menyerang beberapa kapal di Selat Hormuz pada pertengahan Juli 2026. Serangan tersebut memicu respons balasan dari AS yang melancarkan serangan malam hari terhadap Iran selama hampir dua minggu berturut-turut. Selama periode itu, Teheran juga melancarkan serangan rudal dan drone berulang kali terhadap sekutu AS di kawasan Teluk, menciptakan siklus serangan dan balasan yang terus meningkat.

Kedua belah pihak sempat menghentikan serangan selama akhir pekan sebelum serangan rudal terbaru ini. Jeda tersebut disambut positif oleh pasar global, yang melihat adanya peluang untuk de-eskalasi konflik. Namun, serangan terbaru Iran menunjukkan bahwa gencatan senjata sementara itu tidak bertahan lama.

Dampak Ekonomi: Harga Minyak Anjlok

Harga minyak mentah dunia mengalami fluktuasi signifikan akibat konflik ini. Pada saat jeda pertempuran akhir pekan, harga minyak sempat anjlok karena ekspektasi pasar terhadap penurunan ketegangan. Namun, dengan serangan rudal balistik terbaru, harga minyak diperkirakan kembali melonjak karena kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Teluk yang kaya minyak. Selat Hormuz, yang menjadi jalur transit utama minyak dunia, telah menjadi titik rawan konflik sejak serangan Iran terhadap kapal-kapal di sana.

Analis energi memperingatkan bahwa kelanjutan konflik dapat mengganggu stabilitas pasokan minyak global dan memicu kenaikan harga yang lebih tajam. Negara-negara konsumen minyak utama, termasuk AS, telah menyatakan kesiapan untuk menggunakan cadangan strategis jika diperlukan.

Respons Politik

Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah menyatakan adanya peluang besar dalam negosiasi dengan Iran untuk mengakhiri konflik. Dalam pernyataan terpisah, Trump juga menyamakan Iran dengan Venezuela dalam sebuah video yang beredar, dengan mengatakan "Kami hancurkan mereka" sebagai referensi terhadap pendekatan keras AS terhadap kedua negara. Pernyataan ini memicu reaksi beragam dari komunitas internasional.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang baru saja bertemu dengan Trump, menyebut pertemuan tersebut sebagai "percakapan terbaik kami" dan membahas upaya pencegahan nuklir Iran. Pertemuan itu menandakan koordinasi erat antara AS dan Israel dalam menghadapi ancaman Iran.

Serangan rudal balistik terbaru ini memperumit prospek diplomasi. Iran, melalui pernyataan resmi, menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan respons terhadap "agresi" AS di kawasan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Iran mengenai insiden ini.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Komunitas internasional, termasuk PBB, telah mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan. Namun, dengan serangan terbaru ini, prospek perdamaian di Timur Tengah kembali suram.