Terungkap! Dua Jenis Ranjau Laut Iran yang Mengancam Selat Hormuz
Dua Jenis Ranjau Iran Ancam Selat Hormuz

Terungkap! Dua Jenis Ranjau Iran yang Menghantui Selat Hormuz

Donald Trump mengumumkan rencana untuk memulai operasi anti-ranjau di Selat Hormuz, bertujuan membuka kembali jalur air strategis tersebut. Jalur ini secara efektif ditutup untuk lalu lintas maritim oleh Iran sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang pada akhir Februari 2026.

Penebaran Ranjau oleh Iran

Menyusul hancurnya sebagian besar armada kapal angkatan laut akibat serangan AS dan Israel, Iran mengerahkan kapal permukaan kecil untuk menebar ranjau di beberapa bagian Selat Hormuz. Jumlah pasti ranjau yang ditebar masih belum diketahui. Iran hanya membiarkan satu jalur terbuka bagi kapal-kapal yang bersedia membayar tol.

Menurut para pejabat AS yang dikutip oleh New York Times, Iran mengindikasikan bahwa mereka tidak dapat menemukan lokasi semua ranjau yang telah ditebar dan tidak memiliki kemampuan untuk menyingkirkannya. Situasi ini menciptakan tantangan besar bagi keamanan maritim di kawasan tersebut.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Jenis Ranjau yang Digunakan Iran

Iran diperkirakan menebar dua jenis ranjau utama: Maham 3 dan Maham 7. Berbeda dengan ranjau tradisional yang mengandalkan kontak fisik, kedua varian modern ini menggunakan sensor magnetik dan akustik untuk mendeteksi keberadaan kapal sebelum meledakkan hulu ledak.

  • Maham 3: Ranjau jangkar seberat 300 kg yang dapat digunakan di perairan sedalam 100 meter.
  • Maham 7: Ranjau dasar laut berbobot 220 kg yang dirancang untuk perairan lebih dangkal, dengan bentuk kerucut untuk menghindari deteksi sonar.

Meskipun angkatan laut Iran mengalami penyusutan, mereka masih mempertahankan lebih dari 80% hingga 90% kapal kecil serta kapal penebar ranjau, memungkinkan penebaran lebih banyak ranjau jika konflik terus berlanjut.

Opsi AS untuk Membersihkan Ranjau

Pembersihan ranjau merupakan proses yang rumit dan berbahaya. Opsi terbaik dan paling minim risiko bagi AS adalah menggunakan kendaraan pemburu ranjau laut tak berawak, seperti:

  1. Pemburu ranjau bawah laut Knifefish.
  2. Kapal anti ranjau MCM yang menyerupai speedboat.

AS juga dapat mengerahkan sistem netralisasi ranjau udara AN/ASQ-235 (Archerfish) dari helikopter MH-60S. Sistem ini menggunakan kendaraan bersonar untuk mendeteksi dan menghancurkan ranjau. Namun, meskipun teknologi tak berawak mengurangi risiko langsung, personel AS masih rentan menjadi target serangan karena jarak operasional yang relatif dekat.

Efektivitas Ranjau Modern dan Implikasi Hukum

Ketergantungan ekonomi global pada perdagangan maritim memberikan pengaruh besar bagi negara-negara yang menebar ranjau, dengan biaya penebaran yang relatif rendah. Hanya diperlukan sejumlah kecil ranjau untuk menutup jalur laut, terutama karena beberapa ranjau dapat diatur untuk meledak setelah sejumlah kapal tertentu melintas, menciptakan ketidakpastian.

Hukum internasional menetapkan bahwa ranjau tidak boleh digunakan untuk menutup selat internasional bagi hak lintas damai. Namun, situasi diperumit oleh klaim Iran atas sebagian selat sebagai wilayah perairannya, serta fakta bahwa baik Iran maupun AS tidak menandatangani Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) tahun 1994. Hal ini menimbulkan tumpang tindih klaim dan ketegangan hukum yang berkelanjutan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga