Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia sekaligus pembawa acara terkenal, Surya Utama yang lebih dikenal sebagai Uya Kuya, akhirnya mengambil langkah tegas menanggapi serangan hoaks yang diterimanya. Kali ini, ia tidak ingin diam saat mendapat serangan masif terkait kepemilikan dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Serangan Hoaks Melalui Berbagai Platform Media Sosial
Serangan hoaks tersebut diterima Uya Kuya melalui berbagai platform media sosial populer, termasuk TikTok, Instagram, dan Threads. Konten-konten palsu yang beredar luas ini memicu kekhawatiran serius bagi publik figur yang juga aktif di dunia politik ini.
Langkah Hukum dan Trauma Penjarahan Rumah
Uya Kuya akhirnya memutuskan untuk melaporkan kasus ini kepada pihak kepolisian. Ia merasa hoaks tersebut perlu segera diklarifikasi dan ditangani secara hukum agar tidak berujung pada konsekuensi fatal. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, mengingat pengalaman traumatis yang dialaminya pada Agustus 2025, ketika rumahnya menjadi sasaran penjarahan.
"Saya mengalami trauma yang mendalam dengan kejadian penjarahan rumah tersebut," ungkap Uya Kuya. "Oleh karena itu, saya tidak ingin hoaks terkait dapur Makanan Bergizi Gratis ini berkembang menjadi situasi yang sama berbahayanya."
Insiden penjarahan rumahnya di tahun 2025 menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana informasi palsu dapat memicu aksi kekerasan dan kerusakan. Uya Kuya menekankan pentingnya verifikasi informasi sebelum menyebarkannya, terutama di era digital dimana konten dapat viral dalam hitungan menit.
Dampak Hoaks pada Figur Publik dan Masyarakat
Kasus ini menyoroti tantangan yang dihadapi oleh figur publik di Indonesia, dimana hoaks dan disinformasi dapat dengan mudah menyebar melalui media sosial. Uya Kuya, sebagai anggota DPR dan selebritas, menjadi sasaran yang rentan terhadap serangan semacam ini.
Makanan Bergizi Gratis (MBG) sendiri merupakan program yang bertujuan untuk membantu masyarakat, namun kepemilikan dapur terkait program ini justru menjadi bahan hoaks. Uya Kuya berharap laporannya ke polisi dapat mengungkap pelaku dibalik penyebaran informasi palsu ini dan memberikan efek jera.
Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih kritis dalam menerima informasi, terutama yang berkaitan dengan isu-isu sensitif seperti program sosial dan kepemilikan aset. "Klarifikasi dan penegakan hukum adalah kunci untuk mencegah hoaks merajalela," tegasnya.



