Survei Insantara Petakan Kandidat Potensial Ketum PBNU 2026-2031
Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara) baru saja merilis hasil survei nasional mengenai Calon Ketua Umum PBNU untuk periode 2026-2031. Survei yang dilakukan secara daring dari 20 Februari hingga 15 Maret 2026 ini bertujuan memetakan kandidat potensial dan masalah mendesak yang perlu diselesaikan PBNU menjelang Muktamar ke-35 NU, yang direncanakan berlangsung pada Juli atau Agustus 2026.
Metodologi dan Populasi Survei
Populasi survei ini terdiri dari 70% mewakili warga NU dan 30% mewakili Pengurus NU di tingkat PWNU dan PCNU se-Indonesia. Dengan menggunakan metode multistage random sampling, survei melibatkan 5.900 responden dan memiliki margin of error sekitar 3% pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Hasil Simulasi Semi Terbuka: Kiai Imam Jazuli di Puncak
Dalam simulasi semi terbuka yang menampilkan 14 nama kandidat potensial, responden ditanya, "Jika Muktamar NU diadakan sekarang ini, siapa yang akan anda pilih sebagai Ketua Umum PBNU di antara nama-nama berikut ini?" Hasilnya menunjukkan:
- KH Imam Jazuli meraih perolehan tertinggi sebesar 26,1%.
- KH Marzuqi Mustamar menyusul dengan 22,6%.
- KH Yusuf Chudlori berada di posisi ketiga dengan 17%.
- KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) memperoleh 9,8%.
- Diikuti oleh nama-nama lain seperti KH Zulfa Mustofa (4,6%), KH Abdussalam Shohib (4,2%), Prof KH Nasaruddin Umar (4,0%), KH Syaifullah Yusuf (3,6%), H Nusron Wahid (2,1%), Prof KH Nuh DEA (1,9%), KH Abd Ghaffar Rozin (1,3%), KH Juhadi Muhammad (1,3%), dan KH Abd Hakim Mahfudz (1,3%).
Faktor Pendukung Kiai Imam Jazuli
Tingginya perolehan suara untuk KH Imam Jazuli didorong oleh ketidakpuasan responden terhadap kepemimpinan PBNU periode ini, di mana 80% menganggapnya gagal. Kiai Imjaz dinilai sebagai tokoh muda NU dan pesantren yang paling potensial untuk menggantikan Gus Yahya dalam suksesi PBNU di muktamar mendatang. Ia juga dikenal karena kritikannya terhadap kemelut internal PBNU dan gagasan-gagasannya untuk peta jalan NU di abad kedua.
Survei ini menjadi gambaran awal bagi dinamika politik internal NU menjelang muktamar, dengan Kiai Imam Jazuli muncul sebagai figur kuat yang mampu menarik dukungan luas dari basis Nahdliyin.



