SBY Ungkap Momen Tegang Kirim TNI ke Somalia untuk Bebaskan MV Sinar Kudus
SBY Ungkap Momen Tegang Kirim TNI ke Somalia

SBY Ceritakan Momen Tegang Pengiriman TNI ke Somalia untuk Bebaskan MV Sinar Kudus

Presiden keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), membongkar kisah mendalam di balik operasi militer pembebasan Kapal Kargo MV Sinar Kudus yang dibajak perompak Somalia pada tahun 2011. Dalam acara Supermentor-28 On Leadership di The St. Regis Jakarta, Selasa (14/4/2026) malam, SBY mengungkap tekanan besar yang dihadapinya saat mengambil keputusan kritis tersebut.

Keputusan Berisiko Tinggi di Tengah Kritik Publik

SBY mengakui bahwa saat itu, pemerintah dihadapkan pada situasi sulit dengan publik yang menilai tindakan mereka lamban. "Saya harus mengambil keputusan besar di tengah tekanan yang sangat kuat," kenangnya. Dalam rapat pengambilan keputusan, suasana tegang bahkan diwarnai amarah SBY, seperti diungkapkan dalam video kesaksian Komandan Satgas Merah Putih, Muhammad Alfan Baharudin.

Alfan menggambarkan, "Di awal rapat, presiden sangat marah sambil mengebrak tangan di atas meja, menyatakan tidak ada satu kepala negara pun yang mau mengikuti keinginan perompak." SBY menyadari risiko besar operasi ini, yang melibatkan pengiriman pasukan ke perairan Somalia—jarak yang lebih jauh daripada operasi militer Inggris di Perang Falklands pada 1982.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Strategi Diam-diam dan Prioritas Kedaulatan

Meski dikritik publik, SBY memilih diam untuk menjaga kerahasiaan operasi. "Sejak hari pertama, kita sudah bekerja diam-diam tanpa banyak diketahui publik, termasuk memproyeksikan kekuatan dalam jarak yang amat jauh dalam waktu singkat," jelasnya. Bagi SBY, keselamatan warga negara dan kedaulatan Indonesia menjadi prioritas utama, meski keputusan ini mengancam karier politiknya.

Dia menegaskan, "Singkat kata, berhasil saya mengambil risiko itu bisa gagal. Kalau gagal, karier politik saya finish. Tapi saya mengkalkulasikan ini kedaulatan kita, harus kita jaga dan selamatkan warga negara serta kapal kita." Selain itu, SBY menekankan bahwa setiap langkah operasi, termasuk pengejaran perompak hingga ke daratan (hot pursuit), telah sesuai hukum internasional dengan persetujuan pemerintah Somalia dan PBB.

Pujian untuk Profesionalisme TNI dan Pesan Netralitas

SBY mengaku bangga dengan profesionalisme Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam menjalankan operasi tersebut. "Saya bangga dengan TNI yang melaksanakan tugas waktu itu, karena profesional dan menjalankan amanah konstitusi," ujarnya. Dia juga menitipkan pesan penting agar TNI tetap fokus pada tugas konstitusional dan tidak terjebak dalam politik praktis.

Sebagai mantan Panglima Tertinggi, SBY berharap TNI semakin kuat dan berjaya, sambil mengingatkan netralitas Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan Badan Intelijen Negara (BIN). "Tetaplah netral dalam pendidikan demokrasi dan pemilu, supaya menjadi adil. Ingat, TNI, Polri, dan badan intelijensi negara itu milik rakyat," pesannya. Dengan demikian, SBY menegaskan pentingnya institusi keamanan yang berdiri untuk rakyat dan hukum, bukan kepentingan kelompok tertentu.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga