Puan Tegaskan Keterwakilan Perempuan di Parlemen Harus Bawa Perubahan Nyata
Puan: Keterwakilan Perempuan di Parlemen Harus Berdampak Nyata

Ketua DPR RI Puan Maharani menegaskan bahwa keterwakilan perempuan di ranah legislatif harus membawa perubahan yang berdampak dan nyata. Hal ini disampaikan dalam forum diskusi bertajuk 'Perempuan di Parlemen: Dari Representasi Menuju Transformasi Kebijakan' yang digelar Kaukus Perempuan Parlemen Republik Indonesia (KPPRI) di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Apresiasi untuk KPPRI

Puan memberikan apresiasi kepada KPPRI yang telah menginisiasi forum bersejarah ini. Menurutnya, forum ini bukan sekadar pertemuan, melainkan deklarasi kolektif bahwa keterwakilan perempuan di parlemen harus diterjemahkan menjadi perubahan yang nyata dan berdampak. Forum tersebut dihadiri oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi, Ketua Presidium KPPRI Badikenita BR. Sitepu beserta jajaran pengurus, perwakilan duta besar dan kedutaan besar negara sahabat, perwakilan UN Women, organisasi perempuan, NGO, komunitas perempuan internasional, dan anggota DPR RI perempuan.

Mengapa Kehadiran Perempuan di Parlemen Belum Cukup?

Puan mengajak semua pihak untuk merenungkan pertanyaan sederhana namun kompleks: mengapa kehadiran perempuan di parlemen belum cukup? Ia menegaskan bahwa perempuan Indonesia sudah tidak perlu membuktikan kemampuan mereka. Pertanyaan saat ini bukan lagi 'apakah', melainkan 'seberapa jauh' dan 'dengan sistem seperti apa'.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Keterwakilan Perempuan di DPR

Saat ini, 130 dari 580 anggota DPR RI adalah perempuan, atau 22,4 persen. Angka ini lebih baik dari periode sebelumnya, namun masih di bawah ambang batas internasional sebesar 30 persen. Puan mengajak KPPRI untuk merefleksikan diri mengenai dedikasi perempuan sebagai pengambil keputusan di parlemen yang belum selalu ikut merancang ruang kebijakan tersebut.

Menutup Jarak antara Representasi dan Transformasi

Menurut Puan, jumlah perempuan di DPR yang terus meningkat merupakan modal kekuatan KPPRI. Jika diorganisir dengan baik, hal ini bisa menjadi kekuatan legislasi yang tidak tertandingi. Ia mengingatkan bahwa anggota parlemen perempuan tidak hanya sekadar menempati kursi, tetapi juga harus merancang setiap kebijakan, mengawal anggaran, melakukan pengawasan program pemerintah, dan menjalankan diplomasi parlemen dengan menyertakan perspektif perempuan dan keberpihakan pada kelompok yang sering ditinggalkan.

Peran Strategis KPPRI

Puan menilai KPPRI memiliki posisi yang unik dan strategis sebagai jembatan antara lembaga legislatif dan pemerintah, parlemen dan masyarakat sipil, serta Indonesia dan komunitas internasional. Jejaring yang hadir, termasuk perwakilan kedutaan besar, organisasi internasional, UN Women, organisasi perempuan, dan akademisi, merupakan modal besar yang harus dikelola dengan serius.

Perempuan dalam Perdamaian dan Keamanan

Dalam konteks global yang terus berubah, Puan menegaskan bahwa peran perempuan dalam perdamaian dan keamanan bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan. Keterlibatan perempuan dalam konteks global adalah cermin dari keseriusan dalam menempatkan perempuan sebagai pengambil keputusan, bukan sekadar penerima dampak.

Komitmen untuk Perubahan Nyata

Puan mengajak semua anggota DPR perempuan untuk membuat komitmen yang tidak berhenti di kata-kata, melainkan tersambung dengan kebijakan nyata, terintegrasi ke dalam sistem negara, dan terukur. Ia mengibaratkan bangsa yang ingin terbang tinggi membutuhkan kedua sayapnya untuk bekerja penuh. Selama satu sayap belum diberi ruang untuk mengembang sepenuhnya, Indonesia tidak akan pernah tahu seberapa tinggi sebenarnya bisa terbang.

Puan menyerukan bahwa ketika perempuan ikut merancang kebijakan, maka Indonesia tidak hanya akan maju, tetapi akan maju dengan adil, inklusif, dan utuh. Forum diskusi ini digelar KPPRI dalam rangka memperkuat peran dan partisipasi perempuan dalam kegiatan politik, terutama terkait keterwakilan di parlemen yang merupakan indikator penting dalam kualitas demokrasi. Selain dialog interaktif, forum ini juga menghadirkan pagelaran budaya bertajuk 'Wastra Nusantara' dan deklarasi poin-poin komitmen yang telah disepakati bersama.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga