Ibas Dorong Mahasiswa Kritisi Kebijakan Publik, Jangan Hanya Jadi Penonton
Ibas: Mahasiswa Jangan Hanya Jadi Penonton, Kritisi Kebijakan

Ibas Serukan Mahasiswa Aktif Kritisi Kebijakan Publik, Bukan Sekadar Penonton

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Edhie Baskoro Yudhoyono yang akrab disapa Ibas, secara tegas mendorong kalangan mahasiswa untuk tidak hanya berperan sebagai penonton pasif dalam dinamika ketatanegaraan. Ia menyerukan agar mahasiswa menjadi mitra strategis yang secara kritis dan konstruktif mengawal setiap kebijakan publik yang dikeluarkan pemerintah.

Ketatanegaraan Berbasis Kepercayaan Publik

Pernyataan tersebut disampaikan Ibas saat menghadiri dan berbicara dalam Seminar Kebangsaan bertema “Wawasan Ketatanegaraan: Sinergi Lembaga dan Tantangan Hukum Kontemporer”. Acara ini digelar di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, pada Senin, 13 April 2026.

“Ketatanegaraan tidak hanya berbicara soal lembaga, melainkan tentang kepercayaan. Tanpa kepercayaan, hukum menjadi sekadar teks. Dengan kepercayaan, hukum menjadi kekuatan yang nyata,” tegas Ibas dalam paparannya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Ia menjelaskan bahwa pemahaman ketatanegaraan tidak boleh berhenti pada aspek struktural lembaga-lembaga negara saja. Lebih dari itu, harus menyentuh dimensi tanggung jawab dan yang terpenting adalah membangun serta memelihara kepercayaan dari seluruh lapisan masyarakat.

Tantangan Kompleks Dewan Perwakilan Rakyat

Sebagai Wakil Ketua MPR yang juga merupakan politisi Partai Demokrat, Ibas menguraikan peran konstitusional DPR RI yang mencakup tiga fungsi utama:

  • Fungsi Legislasi untuk membentuk undang-undang.
  • Fungsi Pengawasan terhadap pelaksanaan pemerintahan.
  • Fungsi Anggaran terkait pengelolaan keuangan negara.

Namun, ia mengakui bahwa dalam menjalankan ketiga fungsi tersebut, DPR menghadapi berbagai tantangan yang tidak sederhana. Tantangan itu meliputi kompleksitas permasalahan hukum, adanya judicial review atau uji materiil undang-undang di Mahkamah Konstitusi, tekanan politik dari berbagai pihak, serta tingginya ekspektasi dan tuntutan dari publik.

“Kami bekerja dalam dinamika yang tidak mudah, tetapi semua itu harus tetap diarahkan untuk satu tujuan utama, yaitu kepentingan dan kesejahteraan rakyat,” jelas Ibas.

Solusi Strategis: Transparansi, Partisipasi, dan Moralitas

Dalam menghadapi tantangan tersebut, Ibas memaparkan sejumlah solusi strategis yang dianggapnya penting untuk diterapkan:

  1. Transparansi dalam seluruh proses legislasi dan pengelolaan isu-isu strategis di lingkungan parlemen.
  2. Peningkatan pelibatan publik, dengan menyasar generasi muda sebagai agen perubahan, agar proses demokrasi menjadi lebih inklusif dan representatif.
  3. Menjaga keberanian moral para legislator untuk tetap berpihak pada kebenaran dan kepentingan rakyat, meskipun menghadapi berbagai bentuk tekanan politik.

“Parlemen harus menjadi ruang partisipatif yang terbuka dan akuntabel. Bukan menara gading yang tertutup,” tegasnya.

Menghadapi Tantangan Hukum di Era Digital

Ibas juga menyoroti tantangan hukum kontemporer yang semakin kompleks. Dinamika ini tidak hanya berasal dari hukum internasional dan konflik global, tetapi juga dipicu oleh pesatnya perkembangan teknologi dan digitalisasi.

Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence, membawa dua sisi: peluang sekaligus tantangan baru dalam bidang hukum. Tantangan tersebut mencakup maraknya kejahatan siber, isu perlindungan data pribadi, dan regulasi ruang digital.

“Siapa yang menguasai data, mereka yang akan menguasai dunia. Ini peringatan yang harus kita cermati bersama,” tutur Ibas.

Sinergi dengan Dunia Pendidikan dan Peran Aktif Mahasiswa

Lebih lanjut, Ibas menekankan pentingnya membangun sinergi yang kuat antara lembaga negara dengan dunia pendidikan tinggi. Sinergi ini dapat diwujudkan melalui implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Ia mendorong mahasiswa untuk mengambil peran lebih dari sekadar pengamat. Mahasiswa harus menjadi mitra strategis yang aktif mengawasi, mengkritisi, dan memberikan masukan konstruktif terhadap setiap kebijakan publik.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

“Katakan baik jika itu baik, katakan tidak jika itu tidak benar, dan dorong perbaikan jika memang ada yang perlu disempurnakan. Itulah peran kritis yang diharapkan,” pesan Ibas kepada para mahasiswa.

Pesan Penutup untuk Generasi Muda

Sebagai penutup, Ibas mengajak seluruh mahasiswa dan generasi muda Indonesia untuk menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter kuat, dan memiliki rasa cinta tanah air yang mendalam. Ia menekankan bahwa perubahan menuju Indonesia yang lebih baik harus dimulai dari diri sendiri, dengan menjaga optimisme dan semangat berkontribusi.

“Mahasiswa adalah kekuatan nyata bangsa, bukan nanti, tapi sekarang! Mari bersama-sama membangun Indonesia yang lebih maju, adil, dan berdaulat,” tandas Ibas mengakhiri paparannya dalam seminar tersebut.