Gambar AI Mirip Yesus Picu Kontroversi dan Ancam Dukungan Pemilih Trump
Gambar AI Mirip Yesus Ancam Dukungan Pemilih Trump

Gambar AI Mirip Yesus Picu Kontroversi dan Ancam Dukungan Pemilih Trump

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuai kecaman setelah mengunggah gambar hasil artificial intelligence (AI) yang menampilkan dirinya mirip dengan sosok Yesus. Unggahan tersebut, yang dihapus sehari kemudian, berpotensi meretakkan hubungannya dengan basis pemilih religius yang selama ini menjadi kunci kemenangannya dalam pemilu 2024.

Unggahan yang Memicu Kemarahan

Gambar AI tersebut diunggah Trump pada Minggu (12/04) di platform media sosial miliknya, Truth Social, namun dihapus pada Senin (13/04). Dalam gambar itu, Trump digambarkan mengenakan jubah putih dengan tangan seolah memberi kesembuhan kepada seorang lelaki yang berbaring, dilengkapi latar seperti Patung Liberty, kembang api, jet tempur, dan burung elang. Trump membantah bahwa gambar tersebut menampilkan dirinya sebagai sosok mirip Yesus, dan mengklaim bahwa itu dimaksudkan untuk menggambarkan dirinya sebagai seorang dokter yang menyembuhkan orang-orang.

Namun, penjelasan ini diragukan oleh banyak pihak. Brendan McMahon, profesor sejarah seni di Universitas Michigan, menyebut penjelasan Trump "sangat mencurigakan," mengingat gambar itu juga menampilkan sosok lain yang mengenakan pakaian medis, serta penggunaan cahaya sebagai simbol ketuhanan yang umum dalam seni religius. "Ini terinspirasi dari tradisi panjang gambaran Kristen yang menampilkan Kristus sebagai penyembuh," kata McMahon.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kritik Tajam dari Berbagai Pihak

Kritik bermunculan dari kalangan konservatif religius, yang selama ini menjadi pendukung setia Trump. Brilyn Hollyhand, mantan wakil ketua Dewan Penasihat Pemilih Muda Partai Republik, mengecam unggahan tersebut sebagai "penistaan yang menjijikkan" di platform X. Sementara itu, Riley Gaines, mantan perenang dan aktivis yang kerap tampil dalam kampanye Trump, mengaku tidak memahami alasan di balik unggahan itu dan menyerukan agar Trump lebih rendah hati.

Uskup Robert Barron, anggota komisi kebebasan beragama yang dibentuk Trump, juga meminta presiden AS itu meminta maaf kepada Paus Leo atas pernyataannya yang "tidak pantas" di media sosial. Namun, Trump menegaskan bahwa dirinya "tidak perlu meminta maaf" kepada Paus Leo.

Perseteruan dengan Paus Leo dan Dampak Politik

Unggahan gambar ini muncul di tengah dinamika Trump dengan Paus Leo, yang mulai vokal mengkritik perang yang dimulai dengan serangan AS-Israel terhadap Iran. Paus Leo menyebut tindakan tersebut tidak manusiawi, dan Trump merespons dengan menyerangnya sebagai sosok yang "lemah dalam menangani kejahatan dan tidak paham dengan kebijakan luar negeri." Paus Leo menanggapi dengan mengatakan bahwa ia "tidak takut" kepada pemerintahan Trump dan akan terus bersuara.

David Gibson, Direktur Pusat Studi Agama dan Budaya di Universitas Katolik Fordham, mengatakan sulit memahami motif Trump, namun menilai belum jelas apakah umat Katolik Amerika Serikat akan berbalik menentangnya. "Apakah langkah ini akan sudah terlalu kelewatan bagi mereka? Ini adalah momen penentu, apakah umat Katolik Amerika akan memilih Paus atau Presiden?" kata Gibson.

Perseteruan ini semakin dalam akibat perang Iran, di mana Paus Leo menegaskan bahwa Yesus tidak dapat digunakan untuk membenarkan perang. Pernyataan ini dianggap sebagai teguran terhadap pejabat Trump, seperti Menteri Pertahanan Pete Hegseth, yang pernah mengutip ayat Alkitab untuk membenarkan kekerasan. Trump juga pernah berselisih dengan pendahulu Paus Leo, Paus Fransiskus, terkait kebijakan deportasi.

Dukungan dari Dalam Kabinet

Di tengah kontroversi, Wakil Presiden JD Vance meremehkan gambar mirip Yesus tersebut dengan mengatakan bahwa Trump mengunggahnya sebagai candaan. Ia menambahkan bahwa Vatikan sebaiknya tetap fokus pada isu-isu moral saja. Setidaknya delapan anggota kabinet Trump beragama Katolik, termasuk Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, yang mungkin memengaruhi dinamika dukungan dari kalangan religius.

Pemilih Kristen, termasuk umat Katolik, merupakan bagian penting dari basis politik Trump. Setelah nyaris selamat dari upaya pembunuhan pada Juli 2024, sebagian pendukung Evangelis menganggap peristiwa itu sebagai tanda bahwa ia diberkati oleh Tuhan. Namun, kontroversi terbaru ini berpotensi menguji loyalitas mereka di bilik suara mendatang.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga