Dudung Buka Peluang Anak Orang Kaya Tak Lagi Dapat MBG
Dudung: Anak Orang Kaya Mungkin Tak Lagi Dapat MBG

Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman membuka peluang bahwa anak-anak dari keluarga mampu tidak lagi menjadi penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah melakukan refocusing atau penajaman sasaran penerima manfaat agar MBG lebih tepat sasaran.

Efisiensi Bukan Sekadar Pemangkasan Anggaran

Dudung menegaskan bahwa efisiensi yang dimaksud pemerintah bukan semata-mata memangkas anggaran, melainkan memastikan bantuan diberikan kepada kelompok yang benar-benar membutuhkan intervensi gizi. "Artinya efisiensi itu begini, contoh misalnya sekolah di Jakarta ini ada SMP (Santo) Aloysius. Dia sebetulnya yang menerima manfaat yang pantas hanya 40 persen itu nanti akan dihitung. Maka efisiensi dari penyaluran," kata Dudung dalam konferensi pers di KSP, Jakarta Pusat, Rabu (10/6).

Evaluasi di Sekolah dengan Ekonomi Baik

Menurut dia, evaluasi akan dilakukan terhadap komposisi penerima manfaat di sekolah-sekolah yang dinilai memiliki kondisi ekonomi relatif lebih baik dibanding kelompok masyarakat lainnya. Penajaman sasaran penerima manfaat menjadi bagian dari upaya efisiensi program MBG. Pemerintah membuka kemungkinan bantuan tidak lagi diberikan kepada kelompok yang dinilai memiliki kondisi ekonomi lebih baik. "Itu tadi efisiensi jadi tepat sasaran tadi, refocusing maksudnya itu. Artinya kalau misalnya ini tidak perlu, mereka anak-anak orang kaya ya enggak akan dikasih," katanya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pernyataan Kepala BGN

Wacana penajaman sasaran penerima manfaat sebelumnya juga disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang. Menurut dia, pemerintah tengah menata kembali penerima manfaat MBG agar program lebih diarahkan kepada kelompok yang membutuhkan dukungan gizi. Nanik menilai sekolah-sekolah dengan kondisi ekonomi yang relatif baik menjadi salah satu kelompok yang perlu dievaluasi. "Rasanya tidak perlu ya, kalau misalnya sekolah-sekolah kaya (mendapat MBG). Kan ini pasti di rumah gizinya juga lebih bagus. Jadi kita lebih arahkan nanti benar-benar pada anak-anak atau penerima manfaat yang benar-benar membutuhkan intervensi gizi," kata Nanik sebelumnya.

Evaluasi Jumlah Penerima

Ia menjelaskan evaluasi juga akan dilakukan terhadap jumlah penerima manfaat yang saat ini tercatat mencapai sekitar 63 juta orang. Pemerintah akan menghitung kembali apakah seluruh penerima yang terdaftar memang membutuhkan program tersebut atau sebagian alokasinya dapat dialihkan kepada kelompok lain yang belum memperoleh manfaat. Menurut Nanik, refocusing dilakukan untuk memastikan program MBG menjangkau kelompok yang paling membutuhkan sekaligus meningkatkan efektivitas penggunaan anggaran negara.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga