PDIP Kritik Kenaikan Harga Pertamax: Tanpa Sosialisasi dan Transparansi
PDIP Kritik Kenaikan Pertamax: Tanpa Sosialisasi

Anggota Komisi VI DPR bidang energi dari Fraksi PDIP, Mufti Anam, mengkritik keputusan pemerintah yang menaikkan harga BBM non-subsidi per Rabu (10/6). Mufti tidak hanya mempersoalkan kenaikan tersebut diambil di tengah daya beli masyarakat yang masih tertekan, tetapi juga karena tidak disampaikan dengan cara yang baik. Ia menyebut kenaikan itu diumumkan secara tiba-tiba tanpa sosialiasi yang memadai.

"Kenaikan yang cukup signifikan ini terjadi secara tiba-tiba, tanpa sosialisasi yang memadai, tanpa penjelasan yang utuh kepada masyarakat," kata Mufti saat dihubungi. Bahkan, Komisi VI DPR selaku mitra pemerintah di sektor energi juga tidak pernah mendapatkan informasi apa pun sebelumnya. Padahal, pola tersebut, kata Mufti, telah berulang kali dikritisi oleh pihaknya.

"Bahkan DPR sebagai lembaga yang menjalankan fungsi pengawasan pun tidak pernah mendapatkan informasi maupun diajak berdiskusi sebelumnya," kata dia.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Menurut Mufti, BBM bagi masyarakat bukan sekadar komoditas. BBM adalah instrumen yang berpengaruh langsung pada biaya transportasi, usaha, distribusi, hingga harga kebutuhan sehari-hari. Karena itu, setiap kebijakan yang berkaitan dengan BBM mestinya dilakukan dengan transparan, hati-hati, dan penuh empati terhadap kondisi rakyat.

Mufti turut menyinggung video terhadap Bahlil yang belakangan viral. Menurut dia, video berjudul 'My Little Bolu Ketan' itu bukan semata pujian, melainkan harapan dari masyarakat yang disampaikan dengan cara yang baik.

"Itu adalah cara rakyat menyampaikan harapan secara baik-baik kepada pemerintah. Ada pesan yang ingin disampaikan bahwa rakyat ingin pemerintah hadir, bekerja lebih keras, dan menjaga agar harga-harga kebutuhan masyarakat tetap terkendali," kata dia.

Mufti pun mendesak pemerintah dan Pertamina untuk menjelaskan secara terbuka kepada publik alasan di balik kenaikan tersebut, termasuk langkah yang disiapkan untuk melindungi masyarakat dari dampak lanjutan yang mungkin timbul.

"Yang membuat masyarakat kecewa sering kali bukan hanya karena harga naik, tetapi karena mereka merasa tidak diajak bicara dan tidak diberikan penjelasan yang memadai. Tiba-tiba harga berubah, sementara daya beli masih tertekan dan lapangan usaha masih menghadapi berbagai tantangan," katanya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga