Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto membongkar kunci bertahan dalam menghadapi tekanan politik. Menurutnya, seorang pemimpin harus memiliki pijakan ideologis dan keberanian mengambil risiko dalam setiap keputusan. Nilai keberpihakan kepada masyarakat menjadi pegangan penting agar pemimpin tidak mudah terpengaruh tekanan kelompok tertentu.
Pengalaman Memimpin Kota Bogor
Bima mengatakan, pengalaman memimpin Kota Bogor selama 10 tahun memberinya banyak pelajaran tentang pentingnya konsisten memegang nilai dan ideologi. Keteguhan itu menjadi modal utama dalam menghadapi persoalan birokrasi maupun dinamika sosial di masyarakat.
Dia mencontohkan kebijakannya membatasi izin penjualan alkohol di tempat hiburan malam demi melindungi generasi muda. Keputusan tersebut diambil meski harus menghadapi tekanan dari sejumlah pihak. Selain itu, prinsip inklusivitas juga menjadi dasar dalam menyelesaikan konflik pendirian rumah ibadah yang sempat berlangsung bertahun-tahun di Kota Bogor.
Strategi Membangun Tim dan Harapan Publik
Menurut Bima, ideologi dan keberpihakan saja tidak cukup tanpa strategi membangun harapan publik serta membentuk tim birokrasi yang solid. Dalam memilih pejabat, dia lebih mengutamakan karakter dibanding kemampuan teknis semata. "Jadi ketika memilih kepala dinas, bagi saya karakter itu nomor satu. Adab itu nomor satu. Nomor selanjutnya baru kompetensi dan lain-lain," jelasnya dalam kegiatan Bedah Buku "Babad Alas" di FISIP Universitas Diponegoro Semarang, Selasa (12/5/2026).
Dekat dengan Masyarakat dan Keluarga
Untuk menjaga konsistensi nilai tersebut, Bima mengaku aktif membangun kedekatan dengan masyarakat, berdialog dengan aktivis, hingga menjadikan keluarga sebagai pengingat moral dalam menjaga integritas. Dia menilai lingkungan keluarga memiliki peran penting dalam membentuk sikap kritis agar seorang pemimpin tidak mudah tergoda melakukan penyimpangan, termasuk menerima gratifikasi.
Dalam kesempatan itu, Bima juga berpesan kepada mahasiswa agar mulai mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan. Dia mengingatkan bahwa masa kepemimpinan berjalan cepat sehingga setiap kesempatan harus dijalani dengan dedikasi penuh. "Dan bagi kalian yang nanti akan menjadi pemimpin atau bercita-cita jadi pemimpin, jangan lewatkan momen itu. Karena 10 tahun itu cepat sekali. Siapkanlah momen ketika kalian menjadi pemimpin. Ketika sedang menjadi pemimpin, do it with passion," tandasnya.
Kegiatan bedah buku tersebut turut dihadiri Dekan FISIP Undip Teguh Yuwono, Asisten II Pemerintah Kota Semarang Hernowo Budi Luhur, serta para dosen dan mahasiswa FISIP Undip.



