Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk mendampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam kunjungan kerja ke Papua Barat, Sabtu (20/6/2026). Kunjungan ini menjadi momen untuk melihat langsung pemanfaatan Dana Otonomi Khusus (Otsus) Papua melalui pengembangan komoditas kakao dari hulu ke hilir yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat.
Implementasi Dana Otsus yang Baik
Ribka mengatakan, pengembangan kakao hingga menghasilkan produk bernilai tambah merupakan contoh implementasi Dana Otsus Papua yang memberikan manfaat nyata. "Hari ini saya mendampingi Wakil Presiden berkunjung ke sini. Ini merupakan hasil implementasi Dana Otsus yang baik," ujar Ribka saat meninjau pabrik kakao di Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan.
Menurut dia, keberhasilan Otsus harus tercermin melalui program yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat peran orang asli Papua (OAP) dalam pembangunan daerah. "Pembuktian penggunaan Dana Otsus yang baik adalah ketika masyarakat merasakan manfaatnya secara langsung. Kita tidak hanya berbicara soal anggaran, tetapi bagaimana anggaran tersebut mampu memberdayakan orang asli Papua dan menggerakkan ekonomi daerah," kata Ribka.
Komitmen Pemerintah pada Sektor Produktif
Ia menegaskan pemerintah berkomitmen memperkuat sektor-sektor produktif berbasis potensi lokal guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. "Melalui pengembangan kakao dari hulu hingga hilir seperti ini, kita ingin memastikan nilai tambah ekonomi dinikmati masyarakat Papua sendiri. Inilah semangat otonomi khusus yang sesungguhnya. Pemerintah akan terus mendengar aspirasi masyarakat dan mendukung pengembangan komoditas unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan orang asli Papua," ujarnya.
Dampak Kunjungan bagi Pembangunan Papua
Kunjungan tersebut menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan pelaksanaan Otsus Papua berjalan efektif serta mendorong pengembangan sektor unggulan berbasis potensi lokal agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat, khususnya orang asli Papua. Dengan fokus pada komoditas kakao, diharapkan ekonomi daerah semakin bergerak dan kesejahteraan OAP meningkat.



