Satgas PRR Buka Peluang Kerja Sama Pihak Ketiga untuk Normalisasi Sungai
Peluang Kerja Sama Pihak Ketiga untuk Normalisasi Sungai

Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, mendorong pemerintah daerah untuk mempercepat langkah pemulihan pascabencana, termasuk membuka peluang kerja sama dengan pihak ketiga dalam penanganan sedimentasi dan normalisasi sungai. Hal ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi dan Evaluasi Capaian Penanganan serta Percepatan Pemulihan Pascabencana Hidrometeorologi di Aceh, yang dihadiri Gubernur Aceh Muzakir Manaf dan 18 kepala daerah kabupaten/kota terdampak bencana di Banda Aceh, Selasa (9/6/2026).

Percepatan Normalisasi Sungai

Menurut Tito, pelibatan pihak ketiga dapat menjadi solusi untuk mempercepat normalisasi sungai, terutama pada alur sungai yang tidak memiliki risiko tinggi terhadap banjir. Dengan demikian, pemerintah daerah tidak perlu menunggu seluruh pekerjaan ditangani oleh pemerintah pusat. "Sungai yang tidak rawan banjir kembali mungkin lebih baik diserahkan kepada pemerintah daerah, lalu pemda kerja sama dengan pihak ketiga. Kalau tidak, tidak selesai kalau harus dikerjakan pemerintah pusat semua," kata Tito.

Tito menyebut proses normalisasi sungai masih membutuhkan waktu panjang dan diperkirakan berlangsung hingga 2028. Oleh karena itu, percepatan di tingkat daerah menjadi langkah penting untuk mendukung pemulihan wilayah sekaligus menggerakkan kembali aktivitas ekonomi masyarakat terdampak. "Masih banyak yang harus dikerjakan. Bisa sampai 2028 soal normalisasi sungai ini. Kalau ada pihak ketiga, ya sudah biar pihak ketiga saja," ujarnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Data Penanganan Sungai

Data Satgas PRR mencatat program normalisasi sungai mencakup 115 lokasi penanganan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Hingga saat ini, sebanyak 34 sungai telah selesai ditangani, sementara 91 lainnya masih dalam proses pengerjaan. Untuk normalisasi muara, dari 38 lokasi sasaran, sembilan lokasi telah selesai dan 31 lainnya masih dalam tahap pengerjaan.

Prioritas Pemulihan Gubernur Aceh

Sementara itu, Gubernur Aceh Muzakir Manaf menegaskan percepatan pemulihan lahan ekonomi masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam penanganan pascabencana hidrometeorologi. Menurutnya, perbaikan sawah, tambak, irigasi, hingga normalisasi sungai sangat menentukan pemulihan mata pencaharian ribuan warga terdampak. "Semua butuh penanganan. Yang paling urgent itu sawah yang belum bisa dipakai, irigasi, jembatan, jalan, dan tambak. Ini berkaitan langsung dengan mata pencaharian masyarakat Aceh," kata Muzakir yang akrab disapa Mualem.

Ia juga menyoroti pentingnya normalisasi sungai untuk mengurangi risiko banjir yang selama ini kerap mengganggu aktivitas warga. "Sungai-sungai juga perlu kita benahi supaya saat hujan tidak terjadi banjir lagi. Masyarakat yang tinggal dekat sungai selalu terdampak. Barang-barang rumah tangga yang baru dibeli kembali rusak karena terendam banjir," ujarnya.

Dengan adanya kerja sama pihak ketiga, diharapkan proses normalisasi sungai dapat berjalan lebih cepat dan efektif, sehingga pemulihan pascabencana di Sumatera dapat segera terwujud dan masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas ekonomi tanpa hambatan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga