Juru bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, menyayangkan lagu kontroversial berjudul 'Lalaki Langit' yang diciptakan oleh Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein. Lagu tersebut menuai kritik tajam karena liriknya dinilai merendahkan perempuan.
Klarifikasi dan Penyesalan Gerindra
Sugiat mengungkapkan bahwa pihaknya telah mendengar klarifikasi dari Zein bahwa lagu tersebut diciptakan jauh sebelum dirinya menjabat sebagai bupati. "Lagu itu dibuat jauh sebelum dia jadi bupati ya, berdasarkan klarifikasinya," kata Sugiat kepada wartawan, Kamis (2/7/2026).
Meski demikian, Wakil Ketua Komisi XIII DPR itu menegaskan bahwa peristiwa ini harus menjadi pelajaran bagi semua pihak, terutama dalam menciptakan karya seni yang menghormati norma dan budaya. "Yang paling penting pesan mau disampaikan bahwa ya ini jadi pelajaran lah bahwa setiap anak bangsa, bukan hanya kepala daerah ya, untuk membuat karya-karya seni yang itu akan dinikmati oleh publik, itu ya memang harus menjaga norma-norma," ujarnya.
Pentingnya Menjaga Etika dan Norma
Sugiat menambahkan bahwa etika dan nilai-nilai budaya harus dijaga agar tidak terkesan melecehkan pihak tertentu. "Menjaga etika, menjaga ya nilai-nilai yang ada di budaya-budaya kita kan. Apalagi jangan sampai kesannya malah melecehkan salah satu pihak, ya kan. Itu yang pertama," tambahnya.
Gerindra, menurut Sugiat, telah meminta para kepala daerah untuk fokus pada tugas utama mereka, yaitu menyejahterakan rakyat. Setiap pihak harus mengedepankan keteladanan dalam bersikap dan berbicara.
Pelajaran bagi Kepala Daerah
"Yang kedua, saya pikir ini juga pelajaran bagi siapa pun, khususnya kepala daerah, untuk lebih fokus ke tugas dan fungsinya sebagai kepala daerah untuk menyejahterakan rakyatnya kan, dan memberikan keteladanan. Keteladanan dalam berbicara, keteladanan dalam bersikap, keteladanan dalam bertingkah laku. Dan supaya ini pelajaran bagi kita semua, saya pikir itu," ungkapnya.
Sugiat menyebut bahwa kasus ini secara informal sudah dibahas di internal partai. Ia mengingatkan bahwa adab harus dijaga dalam setiap tingkah laku pejabat publik. "Ya secara informal sudah, sudah diingatkan, disampaikan. Bukan hanya ke konteksnya ke Bupati Purwakarta, di setiap rapat-rapat kita kan juga kita selalu diingatkan untuk menjaga sikap, menjaga tingkah laku, menjaga bicara-bicara," kata dia.
Lirik yang Merendahkan Perempuan
Sugiat menyesalkan konten lagu yang bernada merendahkan perempuan. "Sebetulnya kan kalau dari kontennya memang ya tidak ya tidak apalah, tidak menjaga perasaan perempuanlah kan. Ya kita sayangkanlah kenapa bisa dia buat lirik seperti itu kan. Misalnya buat lagu, buat lagu aja, tapi jangan sampai lirik-liriknya malah menyinggung perasaan suatu kelompok masyarakat kan," ujar dia.
Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi II DPR, Dede Yusuf, juga meminta Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian untuk bertindak. "Mendagri sebagai pembina kepala daerah harus meminta klarifikasi bupati. Dan bisa memberikan teguran agar pemerintahan tetap berjalan sesuai peraturan yang ada," ujar Dede Yusuf melalui pesan singkat, Kamis (2/7).
Permintaan Maaf Bupati Purwakarta
Menanggapi kritik, Zein telah meminta maaf dan menjelaskan bahwa lagu tersebut diciptakan pada 2020 sebelum ia menjabat bupati. "Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu, saya nakal dan bersyukur Tuhan menciptakan saya jadi lelaki, mungkin jika saya diciptakan jadi perempuan terjadi apa yang saya pikirkan karena saya belum bisa jaga diri," ujar Bupati Purwakarta saat dikonfirmasi, Rabu (1/7).



