Saat ini kita banyak disuguhi tontonan demokrasi yang menggelitik. Debat publik antara oposisi dan pemerintah saling adu argumen, namun miskin substansi. Ruang diskusi dipenuhi dengan kata-kata seperti 'bodoh', 'tolol', 'penjilat', 'pengkhianat', dan sarkasme tingkat dewa lainnya.
Disclaimer: Bukan Membela Siapa Pun
Sebelum melangkah lebih jauh, perlu ditegaskan bahwa tulisan ini tidak bermaksud membela rezim tertentu, pun tidak mendukung oposisi. Fokus utama adalah pada fenomena komunikasi publik yang terjadi di panggung demokrasi Indonesia.
Debat Publik: Ukuran Demokrasi Sehat
Dalam konteks demokrasi, diskusi atau debat publik menjadi salah satu ukuran penting dari demokrasi yang sehat. Namun, dalam kacamata komunikasi publik, ada sesuatu yang terasa kurang nyaman dan mengusik hati.
Debat publik di Indonesia saat ini perlahan-lahan telah bergeser dari panggung intelektual menjadi sekadar sirkus silat lidah. Ruang yang semestinya diisi dengan dialektika yang mencerahkan, kini penuh dengan watak demagog baru.
Demagog adalah pemimpin atau orator yang menggunakan retorika emosional dan manipulatif untuk mendapatkan dukungan, seringkali dengan mengorbankan logika dan fakta. Fenomena ini mengkhawatirkan karena menggerogoti esensi demokrasi itu sendiri.
Alih-alih beradu gagasan, para aktor politik lebih sering saling serang secara personal. Hal ini tidak hanya menurunkan kualitas debat, tetapi juga membingungkan publik yang haus akan informasi dan solusi nyata.
Masyarakat perlu kritis terhadap praktik demagogi ini. Demokrasi yang sehat membutuhkan partisipasi aktif dari warga yang cerdas dan tidak mudah terprovokasi oleh retorika kosong.



