Kesabaran warga Sumatra Utara, khususnya Kota Medan, kembali diuji. Belum lama pulih dari pemadaman listrik massal (blackout) yang terjadi pada 22 Mei 2026, mereka kini masih harus menghadapi gangguan serupa. Tiga pekan setelah peristiwa itu, keluhan mengenai listrik padam terus bermunculan, bahkan disebut terjadi hampir setiap hari di sejumlah daerah. Pemadaman bergilir diperkirakan berlangsung hingga 14 Juni 2026.
Pemadaman Bergilir Berlanjut
"Masih ada mati lampu sampai sekarang, pernah sampai 4 jam," kata Nina, warga Deli Serdang, kepada Liputan6.com, Kamis (11/6/2026). Waktu pemadaman tidak menentu. Kadang pagi hingga menjelang siang. Tak jarang pula menjelang magrib hingga tengah malam. "Mana cuaca lagi panas, kalau mati lampu gerah sekali rasanya," ujarnya.
Nur, warga Simpang Limun, Medan, juga menceritakan hal yang sama. Beberapa kali rumahnya masih mengalami pemadaman listrik setelah insiden blackout Mei lalu. "Masih ada juga, dua jam kadang lebih," ujarnya. Nina mendapat informasi bahwa pemadaman bergilir ini masih terus terjadi karena proses perbaikan akibat dampak blackout lalu masih berlangsung. "Katanya ini masih terdampak kemarin, tapi kenapa lama sekali. Sudah hampir tiga pekan dari kejadian, masa perbaikan belum beres-beres," ujarnya.
Pasutri Tewas di Mobil Akibat Panas
Niat hati menghindari cuaca panas akibat mati listrik di rumah sendiri, pasangan suami istri (pasutri) asal Sei Mencirim, Sunggal, justru ditemukan meninggal dunia di dalam mobil sedan Chevrolet hitam bernomor polisi BM 1064 VR. Jasad Suharlin dan istrinya, Dame Lamria Pakpahan (47), ditemukan warga di depan rumah orang tua mereka di Jalan Harapan Pasti, Kecamatan Medan Denai, pada Jumat (5/6/2026) sekitar pukul 14.30 WIB.
Kapolsek Medan Area AKP M. Ainul Yaqin, mengonfirmasi kejadian memilukan tersebut saat berada di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Kematian korban pertama kali terungkap setelah pihak kepolisian menerima laporan dari kepala lingkungan (kepling) setempat. “Kedua korban pasangan suami istri ditemukan meninggal dunia di depan rumah orang tuanya. Kami bersama anggota dan tim Inafis Polrestabes Medan segera mendatangi TKP setelah menerima informasi,” terang Ainul.
Berdasarkan keterangan saksi mata, Guntur Simatupang, pasutri tersebut tiba di kediaman orang tua mereka pada Kamis (4/6/2026) malam sekitar pukul 23.00 WIB. Saat tiba, mereka mengabarkan bahwa aliran listrik di rumah mereka sedang padam. "Di TKP korban mengatakan mau menginap karena listrik di rumah mereka sedang mati dan memilih tidur di dalam mobil saja, tepatnya di parkiran depan rumah orang tua korban," ungkap Kapolsek menirukan kesaksian warga.
Keesokan harinya, Jumat pagi sekitar pukul 06.00 WIB, saksi sempat menghampiri mobil dan berbincang dengan kedua korban. Saksi mengajak mereka untuk pindah dan beristirahat di dalam rumah, namun tawaran itu ditolak secara halus. "Di dalam mobil saja kami, nanti kami masuk ke rumah," ujar korban kala itu. Diketahui pula dari keterangan saksi bahwa sang istri (Dame) berada dalam kondisi lumpuh akibat sakit, sementara sang suami (Suharlin) dalam keadaan sehat walafiat.
Petaka mulai terendus sekitar pukul 13.00 WIB. Saksi yang kembali mengecek keberadaan korban curiga melihat wiper mobil dalam kondisi menyala, namun sang suami sama sekali tidak memberikan respons saat dipanggil. Sementara sang istri terlihat sudah dalam kondisi sangat lemas di dalam kabin yang terkunci rapat. Warga sempat mencoba menghubungi pihak pemadam kebakaran untuk meminta bantuan evakuasi. Namun karena situasi mendesak, saksi bersama rekannya terpaksa memecahkan kaca jendela mobil untuk membuka pintu dari luar. Saat pintu berhasil terbuka, suhu di dalam kabin mobil dilaporkan sangat panas menyengat. Kedua korban langsung dilarikan warga ke Rumah Sakit Madani, namun pihak medis menyatakan nyawa pasutri tersebut sudah tidak tertolong. Pihak kepolisian memastikan tidak ada unsur pidana atau penganiayaan dalam insiden maut ini. Kematian diduga kuat akibat kondisi kabin mobil yang ekstrem tanpa sirkulasi udara yang aman.
PLN Targetkan Pemulihan 14 Juni
Merespons kondisi tersebut, PT PLN (Persero) menyatakan terus melakukan pemulihan sistem kelistrikan di Sumatra Utara yang terganggu akibat cuaca ekstrem. General Manager PLN UID Sumatra Utara Mundhakir mengatakan seluruh sumber daya saat ini dikerahkan untuk mempercepat pemulihan dan mengurangi dampak pemadaman bergilir bagi masyarakat. "Berdasarkan perhitungan teknis, skenario terburuk penerapan manajemen beban diperkirakan berlangsung hingga 14 Juni 2026. Namun, seluruh tim terus bekerja maksimal agar proses pemulihan dapat diselesaikan lebih cepat," kata Mundhakir, Kamis (11/6/2026).
Kerusakan yang terjadi pada 12 tower transmisi di jalur Galang–Sei Mangkei akibat hantaman hujan lebat dan angin kencang pada Kamis (4/6/2026) malam lalu langsung direspons secara masif. Sebagai tulang punggung interkoneksi Sumatera, pemulihan jalur ini menjadi prioritas mutlak. Hingga pertengahan pekan ini, sejumlah progres krusial telah berhasil dicapai oleh tim teknis PLN. Seperti terjalinnya sinergi TNI dan mobilisasi kilat, PLN berkolaborasi dengan TNI untuk memobilisasi 7 set Tower Emergency Restoration System (ERS) dari Jakarta, Balikpapan, dan Banjarbaru. Seluruh material mendarat di lokasi pada 7 Juni 2026. Kemudian, pembangunan Tower ERS selesai. Sebanyak 154 personel gabungan berhasil merampungkan berdirinya 3 Tower ERS dalam waktu singkat pada Senin (8/6/2026). Lalu, pemasangan konduktor dikebut. Hingga Rabu (10/6/2026), penarikan kabel konduktor untuk fasa S, fasa T, dan fasa R terus dikebut secara intensif bersamaan dengan perbaikan struktur lengan tower (travers) yang terdampak.
Gubernur Minta Kompensasi
Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Bobby Nasution melayangkan teguran keras kepada jajaran petinggi PT PLN (Persero). Langkah tegas ini diambil menyusul gelombang keluhan masyarakat yang merugi akibat pemadaman listrik bergilir di wilayah Sumut dalam beberapa hari terakhir. Bobby mendatangi Kantor PLN Unit Pelaksana Pengatur Beban Sumatera Bagian Utara (UP2B Sumbagut) di Jalan Yos Sudarso, Kita Medan, Senin (7/6/2026). Di hadapan GM PLN UID Sumut Mundakhir Salman dan para pejabat PLN lainnya, Bobby mendesak pertanggungjawaban nyata berupa kompensasi bagi warga terdampak.
"Masyarakat sudah mengeluh Pak, mereka merugi akibat pemadaman bergilir ini, terutama pengusaha kecil yang mengandalkan listrik. Masalahnya kita tidak tahu jadwalnya, masyarakat tidak diberitahu dengan jelas sehingga tidak ada persiapan, dan itu berulang setiap hari," kata Bobby. Bobby menilai PLN sangat lemah dalam memberikan informasi jadwal pemadaman kepada pelanggan. Dia meminta PLN lebih transparan dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah (bupati atau wali kota) agar sosialisasi darurat bisa dibantu dan sampai ke masyarakat. Bobby mendesak PLN memberikan kompensasi adil, bisa berupa keringanan tagihan listrik atau diskon pembelian token bagi pelanggan prabayar. "Sebagaimana kita yang terlambat membayar sedikit saja, langsung ada sanksi pemutusan hingga pencopotan meteran. Penekanan kita ke situ, harus ada kompensasi," cetus Bobby.
Krisis Air Bersih Meluas
Tak sampai di sana, krisis air bersih berskala besar melanda puluhan ribu pelanggan Perumda (PDAM) Tirtanadi di wilayah Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang, sejak Selasa (8/6/2026) hingga hari ini. Kelangkaan ini dipicu kerusakan mesin operasional dan pecahnya pipa distribusi utama akibat pemadaman listrik bergilir yang melanda Sumatera Utara sejak pekan lalu. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 7 kecamatan dilaporkan mengalami penghentian pasokan air bersih secara total.
Sebanyak 7 kecamatan yang terdampak krisis air yaitu, Kota Medan di Kecamatan Medan Amplas, Medan Kota, Medan Area, Medan Perjuangan, dan Medan Maimun. Kabupaten Deli Serdang di Kecamatan Delitua dan Percut Sei Tuan. Direktur Utama PDAM Tirtanadi, Ardian Surbakti, mengungkapkan bahwa ketidakstabilan arus akibat pemadaman listrik yang berulang kali dalam beberapa minggu terakhir memberikan tekanan kejut (shock pressure) yang merusak komponen vital pada Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Deli Tua. Selain merusak mesin, fenomena byar-pet ini memicu turbulensi hebat di dalam jaringan pipa bawah tanah hingga menyebabkan pipa utama berdiameter raksasa pecah.
"Penyebab matinya air di IPAM Deli Tua ini salah satunya adalah kerusakan dari mesin-mesin kita karena sering sekali terjadi pemadaman listrik yang berulang kali," ujar Ardian saat meninjau langsung lokasi perbaikan di Jalan Purwo, Kecamatan Delitua, Rabu (10/6/2026). Ardian menambahkan, kerusakan di jalur Delitua merupakan salah satu yang paling parah. "Pipanya itu pecah dengan diameter berukuran 1.000 milimeter. Namun, beberapa titik yang lain sudah dapat diperbaiki secara normal," ungkapnya.
Langkah Ekstrem PDAM
Demi mempercepat pemulihan, PDAM Tirtanadi mengambil langkah ekstrem dengan menghentikan total proses produksi air bersih pada Rabu (10/6/2026) agar tim teknis dapat fokus melakukan perbaikan massal. Manajemen menargetkan seluruh proses penyambungan pipa raksasa dan perbaikan mesin rampung paling lambat Kamis (11/6/2026). Masyarakat diminta bersabar menunggu normalisasi tekanan air ke rumah-rumah. "Mudah-mudahan kita bisa menyelesaikan semua itu, dan diharapkan besok (Kamis) siang atau sore hari air sudah bisa hidup kembali secara normal," pungkas Ardian. Selama masa perbaikan dan penghentian pasokan, manajemen Tirtanadi mengimbau warga di tujuh kecamatan terdampak untuk menghemat cadangan air yang tersisa. Bagi wilayah yang mengalami krisis parah, Tirtanadi telah menyiagakan bantuan armada mobil tangki air gratis yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.
Viral Mobil Damkar Suplai Air ke Rumah Pejabat
Sebuah video yang memperlihatkan mobil Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Medan memasok air bersih ke sebuah rumah di Kota Medan viral di media sosial dan menuai sorotan publik. Peristiwa tersebut terjadi di Jalan STM Gang Suka Cita, Kelurahan Suka Maju, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan. Berdasarkan informasi yang beredar, rumah yang mendapat pasokan air itu diduga milik Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Medan, Benny Sinomba Siregar.
Video tersebut menjadi perhatian karena terjadi di tengah keluhan warga di sejumlah wilayah Kota Medan yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Krisis air itu disebut dipicu gangguan pada sistem distribusi PDAM Tirtanadi Sumut setelah terjadinya pemadaman listrik. Dalam rekaman yang beredar, sejumlah warga tampak mendatangi lokasi saat mobil pemadam kebakaran menyalurkan air. Warga mempertanyakan penggunaan kendaraan dinas tersebut untuk memasok air ke rumah pribadi di tengah kondisi pasokan air bersih yang masih terbatas di sejumlah kawasan. Ketegangan sempat pecah di lokasi saat warga mempertanyakan mengapa rumah pejabat yang didahulukan, sementara rakyat kecil diabaikan. “Kami sudah tidak mendapatkan air sejak malam! Tapi justru ada mobil Damkar yang mengisi air ke rumah pejabat. Sementara masyarakat tidak dilayani!” teriak seorang ibu dalam video viral tersebut dengan nada tinggi. Mendapat protes dari warga yang berada di lokasi, mobil Damkarmat tersebut akhirnya meninggalkan area sebelum proses penyaluran air selesai dilakukan.
Kadis Damkar Buka Suara
Merespons kegaduhan yang viral, Kepala Dinas Damkarmat Kota Medan, Wandro Abadi Agnellus Malau, langsung angkat bicara. Ia membantah bahwa armada miliknya dikerahkan atas perintah langsung sang pejabat. Wandro mengatakan mobil damkar itu tidak dikerahkan atas permintaan langsung Benny Sinomba Siregar. Menurut dia, armada tersebut bergerak untuk membantu distribusi air berdasarkan koordinasi dengan PDAM. "Pengaduan ke PDAM, kita bantu. Yang bawa ke lokasi (adalah) pihak PDAM," kata Wandro saat dikonfirmasi wartawan, Kamis (11/6/2026). Ia menegaskan Benny tidak pernah mengajukan permintaan langsung kepada Damkarmat untuk mengirimkan armada ke rumahnya. Wandro menyebut pihaknya tetap menyalurkan bantuan air bersih ke berbagai wilayah yang terdampak gangguan pasokan air. "Bukan (permintaan Benny Sinomba ke Damkarmat Medan). Armada kita perbantukan ke keseluruhan kecamatan terdampak," ujarnya. Meski telah memberikan klarifikasi, netizen dan masyarakat tetap menyayangkan insiden tersebut. Tindakan tersebut dinilai mencederai rasa keadilan sosial dan memperlihatkan ego oknum pejabat di tengah penderitaan masyarakat luas.



