Bupati Natuna, Cen Sui Lan, menilai konsep Sekolah Satu Atap dapat menjadi solusi efektif untuk pemerataan pendidikan di daerah terpencil atau berpenduduk minim. Model ini mengintegrasikan dua jenjang pendidikan, seperti SD dan SMP, dalam satu lokasi dengan pengelolaan terpadu.
Efisiensi Biaya dan Sarana
Menurut Cen Sui Lan, penerapan Sekolah Satu Atap memungkinkan pemerintah menghemat biaya pembangunan gedung sekolah serta penyediaan sarana dan prasarana pendukung. "Kita lebih mengutamakan sekolah satu atap untuk wilayah-wilayah yang jumlah penduduknya sedikit," ujarnya di Natuna, Kepulauan Riau, Minggu (21/6).
Salah satu daerah yang direncanakan menerapkan konsep ini adalah Desa Selaut, sebuah desa kepulauan yang terpisah dari ibu kota kabupaten maupun Kecamatan Bunguran Barat. Saat ini, Desa Selaut hanya memiliki satu sekolah dasar, SD Negeri 007 Selaut, dengan jumlah siswa per rombongan belajar tidak mencapai 10 orang. Desa tersebut belum memiliki SMP.
Dampak bagi Siswa dan Desa
Setiap lulusan SD Negeri 007 Selaut harus melanjutkan pendidikan ke daerah lain dengan waktu tempuh perjalanan laut menggunakan kapal cepat lebih dari 30 menit. Jika dibangun SMP sendiri, akan menguras banyak anggaran, termasuk biaya belanja pegawai dan penambahan kepala sekolah. "Jumlah siswa di SD Negeri Selaut juga tidak banyak, mungkin tidak sampai enam orang per kelas," kata Cen Sui Lan.
Pada tahun ajaran 2026/2027, Pemerintah Kabupaten Natuna berencana membuka satuan pendidikan jenjang SMP di Desa Selaut dengan memanfaatkan sementara gedung SD Negeri 007 Selaut hingga ada kebijakan lebih lanjut. Kehadiran SMP di desa itu penting untuk mengurangi risiko kecelakaan laut yang dihadapi pelajar dan mencegah perpindahan penduduk karena alasan pendidikan anak. "Kita khawatir setelah anak-anak menyelesaikan pendidikan dasar, mereka pindah bersama keluarganya. Kalau terus terjadi, lama-kelamaan desa ini bisa kosong," pungkasnya.



