Cek Fakta: Video Trump Dipapah Bukan karena Stroke Akibat Kalah Perang Iran
Video Trump Dipapah Bukan karena Stroke Akibat Kalah Perang Iran

Jakarta - Sebuah video berdurasi 13 detik yang memperlihatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dipapah oleh agen US Secret Service viral di platform media sosial Facebook. Video tersebut disertai narasi yang mengklaim bahwa Trump mengalami stroke akibat pecahnya pembuluh darah di otak karena kalah strategi dalam perang melawan Iran. Klaim ini memicu perdebatan di kolom komentar, dengan sebagian warganet mempercayainya, sementara yang lain meragukan keasliannya.

Verifikasi Cek Fakta DW Indonesia

Tim Cek Fakta Deutsche Welle (DW) Indonesia melakukan verifikasi mendalam terhadap klaim tersebut. Hasilnya, klaim tersebut adalah salah atau hoaks. Tidak ada bukti yang mendukung narasi bahwa Trump mengalami stroke akibat kekalahan strategi perang dengan Iran.

Analisis Video

Pemeriksaan menggunakan alat Hive Moderation menunjukkan bahwa video tersebut bukanlah hasil manipulasi kecerdasan buatan (AI). Lebih lanjut, penelusuran menggunakan Google Reverse Image mengungkapkan bahwa video tersebut bukanlah rekaman peristiwa terbaru. Sebaliknya, video itu merupakan rekaman lama yang diambil saat terjadi insiden penembakan dalam kampanye Donald Trump di Pennsylvania, Amerika Serikat, pada tahun 2024. Dalam insiden tersebut, Trump memang terlihat dipapah oleh US Secret Service, namun konteksnya adalah prosedur pengamanan setelah terjadi percobaan penembakan, bukan karena kondisi medis seperti stroke.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Penelusuran dengan kata kunci "Shooting at Trump Rally Pennsylvania" menampilkan rekaman lain dari sudut pandang berbeda yang memperkuat kronologi kejadian tersebut. Hingga saat ini, tidak ada laporan resmi dari Gedung Putih, tim medis kepresidenan AS, maupun media kredibel yang menyebutkan bahwa Trump mengalami stroke, apalagi mengaitkannya dengan konflik atau strategi perang dengan Iran.

Pola Daur Ulang Video Hoaks

Fenomena ini menunjukkan pola yang kerap muncul dalam penyebaran disinformasi, yaitu penggunaan ulang video lama dengan narasi hoaks baru. Fact-check Analyst Mafindo, Aribowo Sasmito, menjelaskan bahwa hoaks biasanya menumpang isu yang sedang ramai diperbincangkan publik agar lebih mudah menarik perhatian dan menyebar luas.

"Karena buat apa bikin hoaks kalau orang enggak lagi memerhatikan, artinya debatnya enggak sebanyak kalau ada sesuatu yang lagi diperhatikan masyarakat," kata Aribowo saat diwawancarai DW Indonesia.

Ia menambahkan, dalam situasi seperti ini, emosi sering kali lebih dominan dibanding verifikasi, sehingga pengguna media sosial cenderung langsung membagikan informasi, termasuk video viral, tanpa mengecek kebenarannya. "Walaupun mungkin orang tahu bahwa sumbernya tidak jelas, kita mana tahu kalau Trump benar stroke atau tidak. Jadi memang ujung-ujungnya kembali ke aspek dasar bahwa manusia itu sering tergocek emosinya," lanjut Aribowo.

Tantangan Teknologi di Era Disinformasi

Dalam konteks yang lebih luas, Analyst Drone Emprit, Rizal Nova Mujahid, menilai perkembangan teknologi justru menambah tantangan dalam membedakan konten asli dan manipulasi AI. "Sebenarnya itu memang tantangan untuk teknologi, bahkan sampai saat ini. Karena image atau video yang diproduksi oleh AI semakin baik dan semakin secure, kalau dilihat sekilas menjadi semakin susah untuk dikenali," kata Nova kepada DW Indonesia.

Nova menambahkan, kondisi ini membuat publik semakin bergantung pada transparansi dari pembuat konten dan platform digital. Menurut dia, pelabelan konten menjadi sangat penting agar masyarakat bisa segera mengenali apakah sebuah konten berpotensi menyesatkan atau tidak. Ia juga menekankan perlunya peran aktif pemerintah dan platform dalam melakukan verifikasi terhadap konten yang beredar.

"Kita bergantung pada kemauan kreator konten untuk melabeli ini sebagai hasil AI atau tidak AI, sehingga kita bisa langsung mengenali hoaks atau enggak. Lalu juga strategi berikutnya adalah meminta pemerintah untuk mendorong agar hal-hal seperti ini diverifikasi oleh platform-nya," kata Nova.

Video viral Trump ini menjadi contoh bagaimana konteks dapat dihilangkan untuk membangun narasi keliru. Tidak hanya itu, video terkait konflik Iran hingga video pertemuan Presiden Prabowo dan Presiden Putin juga berulang kali menjadi bahan untuk menyebar hoaks karena besarnya atensi publik terhadap isu global.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Di tengah derasnya arus informasi, publik diingatkan untuk tidak cepat bereaksi, tetapi kritis memeriksa sumber dan konteks sebelum percaya serta menyebarkannya.

Fika Ramadhani turut berkontribusi dalam pembuatan artikel ini.

Editor: Melisa Lolindu