Trump Ancam Iran Sesaat Sebelum Penandatanganan MoU
Jakarta - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan ancaman terhadap Iran. Ia menyatakan siap melanjutkan aksi militer jika Teheran tidak mematuhi kewajibannya. Pernyataan ini disampaikan Trump pada Rabu (17/6) waktu setempat, hanya beberapa jam sebelum penandatanganan kesepakatan untuk mengakhiri perang antara kedua negara.
"Tidak, ini belum final. Ini adalah nota kesepahaman," kata Trump di sela-sela KTT G7 yang digelar di Prancis, merujuk pada MoU yang akan ditandatangani. "Jika saya tidak menyukainya, kami akan kembali menyerang mereka," tambahnya.
"Jika mereka tidak berperilaku baik, kami akan langsung kembali menjatuhkan bom tepat di tengah kepala mereka," cetus Trump, seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (18/6/2026). Ia juga menyinggung perilaku Iran selama 47 tahun terakhir, merujuk pada pendirian Republik Islam Iran setelah revolusi 1979.
Penandatanganan MoU Iran-AS
Trump menandatangani nota kesepahaman Iran-AS saat makan malam dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Versailles, setelah pertemuan KTT G7 pada Rabu malam. "Baru saja menandatanganinya," ujar Trump saat meninggalkan istana.
Pemerintah Iran juga mengonfirmasi penandatanganan dokumen kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan AS. "Teks Memorandum of Understanding Islamabad telah diselesaikan dengan tanda tangan para presiden -- sekarang saatnya untuk menguji implementasi perjanjian tersebut," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, dikutip dari IRNA.
Baqaei menambahkan bahwa penandatanganan dilakukan secara elektronik dan jarak jauh oleh kedua presiden, dan upacara resmi tidak dianggap perlu oleh Iran.
Sebelumnya, Trump juga mengakui bahwa cadangan minyak AS hanya tersisa empat minggu jika tidak ada kesepakatan dengan Iran. Kesepakatan ini diharapkan dapat mengakhiri konflik berkepanjangan antara kedua negara.



