Sopir Angkot Bogor Protes Penambahan 8 Bus Stop Biskita, Pendapatan Anjlok 50%
Sopir Angkot Bogor Gerah Penambahan Bus Stop Biskita

Penambahan delapan titik pemberhentian bus atau bus stop Biskita Transpakuan di sepanjang Jalan Raya Tajur, Kota Bogor, memicu kemarahan para sopir dan pemilik angkutan kota (angkot) trayek 21. Mereka menggeruduk kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor pada Kamis (18/6/2026) untuk menyampaikan keberatan.

Pendapatan Sopir Anjlok Hingga 50 Persen

Kepala Bidang Angkutan Dishub Kota Bogor Dody Wahyudin mengungkapkan bahwa para sopir angkot mengeluhkan penurunan pendapatan drastis akibat penambahan bus stop Biskita. "Ya jadi yang diutarakan oleh beberapa perwakilan sopir, pendapatan mereka berkurang hampir 50 persen dari biasanya, akibat pemasangan 8 titik bus stop Biskita," kata Dody, Kamis (18/6/2026).

Penambahan bus stop tersebut merupakan respons atas permintaan warga yang ingin menikmati fasilitas angkutan bersubsidi yang murah dan nyaman. Saat ini, total terdapat 11 titik pemberhentian Biskita di sepanjang Jalan Raya Tajur hingga Ciawi, termasuk halte yang dipasang berpasangan di kedua sisi jalan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dishub Tak Bisa Serta Merta Menghapus Bus Stop

Menanggapi tuntutan sopir agar bus stop dihentikan sementara, Dody menjelaskan bahwa penghapusan titik bus stop harus dikoordinasikan dengan operator Biskita. Sistem Biskita menggunakan koordinat GPS, sehingga pengemudi wajib berhenti di titik yang telah ditentukan. "Apabila Biskita ini tidak berhenti pada bus stop yang sudah disiapkan, itu operator juga bisa mendapatkan penalti atau sanksi," imbuhnya.

Selain soal bus stop, para sopir juga mengeluhkan perilaku oknum sopir Biskita yang ugal-ugalan dan sering menaikkan penumpang melebihi kapasitas. Mereka meminta Dishub memberikan sanksi kepada operator agar pengemudi Biskita lebih tertib.

Dua Bus Stop Dinonaktifkan Sementara

Setelah negosiasi, Dishub Kota Bogor memutuskan untuk menonaktifkan sementara dua dari delapan titik bus stop yang diprotes. "Betul, ada dua titik bus stop yang kita nonaktifkan dulu, untuk sementara," kata Dody, Jumat (3/7/2026). Dua titik tersebut adalah Wangun dan Biotrop, yang dinilai bukan titik potensial kantong penumpang karena faktor keterisian Biskita sudah di atas 100 persen.

"Kebijakan ini diambil sebagai bagian dari upaya menjaga kondusivitas di lapangan, sekaligus menindaklanjuti aspirasi yang berkembang dari pengemudi angkutan kota trayek 21," jelas Dody. Meski demikian, ia menegaskan bahwa Dishub tidak bisa mengakomodasi seluruh tuntutan pencabutan delapan bus stop.

Audiensi dengan 80 Sopir Berjalan Kondusif

Unjuk rasa yang diikuti sekitar 80 sopir dan pemilik angkot berlangsung aman. Perwakilan mereka diterima untuk melakukan audiensi dengan pejabat Dishub. Dody mengatakan bahwa Dishub telah mengaktifkan total 85 bus stop di seluruh koridor, termasuk di koridor 2 lintasan trayek 21. Para pengemudi angkot berharap penambahan bus stop dihentikan karena berdampak langsung pada pendapatan mereka.

"Mereka menuntut terkait dengan bertambahnya bus stop ini, pendapatan mereka menurun drastis," ucap Dody. Dengan penonaktifan dua titik, Dishub berharap dapat menyeimbangkan kebutuhan masyarakat akan transportasi murah dan kelangsungan usaha angkot.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga