Kombinasi serangan udara masif dari militer Rusia dan gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa kini menghimpit warga sipil Ukraina. Pada Senin (29/6/2026), rentetan serangan rudal dan drone Rusia dilaporkan menewaskan sedikitnya 11 orang warga sipil dan menyebabkan 40 orang lainnya luka-luka. Di saat yang sama, masyarakat harus bertahan di tengah suhu udara yang melonjak melebihi 36 derajat Celsius.
Serangan Rudal dan Drone Rusia Tewaskan 11 Warga Sipil
Menurut laporan resmi, serangan yang terjadi pada 29 Juni 2026 itu menyasar sejumlah wilayah permukiman dan infrastruktur sipil. Militer Rusia menggunakan rudal jelajah dan drone (unmanned aerial vehicle/UAV) dalam gelombang serangan tersebut. Korban jiwa dilaporkan tersebar di beberapa kota, dengan jumlah luka-luka mencapai 40 orang. Tim penyelamat masih melakukan evakuasi dan pencarian korban di reruntuhan bangunan.
Gelombang Panas Ekstrem Memperparah Krisis Listrik
Di tengah serangan, Ukraina juga dilanda gelombang panas (heatwave) dengan suhu udara melonjak melebihi 36 derajat Celsius. Lonjakan suhu ini membuat jaringan listrik nasional yang dikelola oleh operator Ukrenergo lumpuh dan tidak mampu membendung lonjakan permintaan daya listrik. Akibatnya, pemadaman listrik bergilir terjadi di berbagai daerah, termasuk di ibu kota Kyiv. Warga kesulitan mendapatkan pendingin ruangan dan air bersih karena pasokan listrik tidak stabil.
Dampak terhadap Warga Sipil
Kombinasi serangan dan gelombang panas menempatkan warga sipil dalam situasi yang sangat sulit. Banyak yang terpaksa mengungsi ke tempat penampungan sementara yang minim fasilitas pendingin. Rumah sakit kewalahan menangani korban luka dan pasien yang mengalami dehidrasi akibat panas. Pemerintah Ukraina mengimbau warga untuk menghemat penggunaan listrik dan mencari tempat teduh selama gelombang panas berlangsung.
Respons Pemerintah dan Komunitas Internasional
Pemerintah Ukraina telah mengerahkan tim darurat untuk membantu warga yang terdampak. Bantuan medis dan logistik didistribusikan ke daerah-daerah yang paling parah terkena serangan dan gelombang panas. Komunitas internasional, termasuk PBB dan organisasi kemanusiaan, menyatakan keprihatinan atas situasi ini dan menjanjikan bantuan tambahan. Namun, akses ke daerah konflik masih terbatas karena risiko keamanan.



