LONDON – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini tidak hanya digunakan untuk memburu pelaku kejahatan, tetapi juga untuk mengawasi aparat penegak hukum itu sendiri. Kepolisian Metropolitan London (Metropolitan Police/Met) mengungkapkan bahwa ratusan personelnya tengah diperiksa setelah sebuah sistem berbasis AI berhasil mengidentifikasi berbagai dugaan pelanggaran internal.
Pelanggaran yang Terdeteksi
Sistem AI tersebut mendeteksi berbagai pelanggaran, mulai dari manipulasi data absensi, penyalahgunaan sistem kepolisian, dugaan korupsi, hingga tindak pidana serius seperti pelecehan seksual dan pemerkosaan. Temuan ini menunjukkan bahwa teknologi AI dapat menjadi alat yang efektif untuk mengawasi integritas internal institusi penegak hukum.
Peran Palantir dalam Pengembangan Sistem
Teknologi ini dikembangkan oleh perusahaan teknologi Palantir, sebuah perusahaan analisis data asal Amerika Serikat yang dikenal kontroversial karena keterlibatannya dalam berbagai proyek pemerintah dan lembaga keamanan. Palantir telah lama bekerja sama dengan pemerintah dan badan intelijen di berbagai negara, dan kini teknologi mereka digunakan untuk mengawasi kepolisian London sendiri.
Implikasi dan Tantangan
Langkah ini menimbulkan pertanyaan tentang privasi dan potensi penyalahgunaan data. Meskipun AI dapat membantu mengungkap pelanggaran, ada kekhawatiran tentang bagaimana data personel dikumpulkan, disimpan, dan digunakan. Kepolisian Met sendiri belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai prosedur pengawasan dan perlindungan data bagi anggotanya.
Namun, pihak kepolisian menegaskan bahwa penggunaan AI ini bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas internal. Mereka berharap teknologi ini dapat membantu membersihkan institusi dari oknum-oknum yang melanggar hukum.
Reaksi Publik dan Pakar
Langkah ini mendapat reaksi beragam dari publik dan pakar. Sebagian mendukung penggunaan AI untuk mengawasi aparat penegak hukum, sementara yang lain khawatir tentang potensi pelanggaran hak asasi manusia. Pakar keamanan siber menekankan pentingnya pengawasan independen terhadap sistem AI tersebut untuk mencegah penyalahgunaan.
Ke depannya, penggunaan AI dalam pengawasan internal kepolisian mungkin akan menjadi tren di berbagai negara. Namun, keseimbangan antara efektivitas pengawasan dan perlindungan hak individu harus dijaga dengan ketat.



