Komisi IX DPR Imbau Warga Tak Panik Hadapi Hantavirus di Jakarta
Komisi IX DPR Imbau Warga Tak Panik Hadapi Hantavirus

Wakil Ketua Komisi IX DPR Yahya Zaini menanggapi penemuan empat kasus hantavirus di Jakarta sepanjang tahun 2026. Ia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan tanpa panik.

Imbauan untuk Masyarakat

Yahya menyatakan, "Dengan ditemukannya kasus hantavirus di Jakarta, saya minta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dengan tetap menjaga ketenangan, tidak panik. Saya minta pemerintah segera bergerak cepat menangani kasus yang terjadi." Pernyataan ini disampaikan kepada wartawan pada Rabu, 13 Mei 2026.

Ia menjelaskan bahwa hantavirus adalah virus yang disebarkan oleh hewan, terutama tikus. Virus ini dapat menyebabkan penyakit serius hingga kematian pada manusia. Penularannya tidak terjadi antar manusia, melainkan dari tikus ke manusia melalui inhalasi udara yang terkontaminasi, kontak langsung dengan urine, air liur, atau kotoran tikus, serta gigitan tikus.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Langkah Pencegahan

Yahya menekankan pentingnya menjaga kebersihan rumah dari tikus sebagai langkah pencegahan utama. Ia juga menyarankan penggunaan alat pelindung diri seperti masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi. "Pola pencegahan dari hantavirus adalah dengan menjaga kebersihan rumah dari tikus, menggunakan APD seperti masker dan sarung tangan jika melakukan pekerjaan yang bersentuhan dengan tikus. Selain itu, gunakan disinfektan jika membersihkan ruangan yang terkontaminasi oleh kotoran tikus," jelasnya.

Menurut Yahya, langkah Kementerian Kesehatan yang memperkuat pengawasan melalui thermal scanner, pengamatan visual, dan sistem surveilans pelaku perjalanan sudah tepat. Namun, ia meminta pemerintah tetap memperketat pengawasan di pintu masuk Indonesia. "Langkah yang dilakukan oleh Kemenkes dengan memperkuat pengawasan di pintu masuk ke dalam melalui thermal scanner, pengamatan visual, dan sistem surveilans pelaku perjalanan sudah sangat tepat. Kita harapkan ini dijalankan dengan baik agar tidak terjadi potensi penyebaran hantavirus melalui pintu masuk tersebut," ujarnya.

Politikus Partai Golkar ini juga menyebut bahwa Kemenkes telah menyiapkan jejaring laboratorium dengan kemampuan pemeriksaan PCR dan Whole Genome Sequencing (WGS), serta memperkuat kesiapan 198 rumah sakit jejaring pengampuan penyakit infeksi emerging di seluruh Indonesia. "Untuk itu kita berharap agar penyebaran hantavirus di Indonesia dapat tertangani dengan baik dan masyarakat dihimbau untuk tidak panik dan mematuhi protokol kesehatan yang disampaikan oleh otoritas kesehatan berkaitan dengan hantavirus," paparnya. Ia juga mendorong Kemenkes dan Dinas Kesehatan setempat untuk terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, terutama dari segi promotif dan preventif.

Pentingnya Kebersihan Lingkungan

Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR Irma Suryani Chaniago menyoroti temuan kasus hantavirus ini. Menurutnya, virus tersebut sebenarnya sudah ada di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. "Sebetulnya virus ini sudah ada di Indonesia, tercatat dalam kurun waktu 2024-2026 sebanyak 23 kasus dengan tipe HFRS yang menyerang ginjal," ujarnya.

Irma mengingatkan bahwa penyakit menular dan tidak menular sama-sama berbahaya. Oleh karena itu, ia meminta masyarakat meningkatkan kesadaran menjaga kebersihan rumah dan lingkungan. "Saat ini penyakit menular dan tidak menular sama bahayanya, untuk itu untuk menjaga kesehatan masyarakat perlu memahami pentingnya menjaga kebersihan rumah dan lingkungan," katanya.

Ketua DPP Partai NasDem ini mengimbau masyarakat menjaga rumah tetap bebas dari tikus, menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan sarang tikus, serta tidak menyapu kering kotoran tikus agar virus yang mungkin ada tidak berterbangan. Menurutnya, Kemenkes perlu mengeluarkan surat edaran mengenai hantavirus sebagai langkah antisipasi meskipun virus ini belum mewabah. "Dalam rangka mengantisipasi penyebaran virus ini, Kementerian Kesehatan perlu mengeluarkan surat edaran agar semua rumah sakit melaporkan pasien yang diduga suspect pada Kemenkes agar penyebarannya dapat diantisipasi," tuturnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Temuan Kasus di Jakarta

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati mengungkapkan temuan empat kasus hantavirus di Jakarta sepanjang 2026. Tiga orang di antaranya sudah sembuh dan satu masih suspek. "Di 2026 yang ada di catatan kami sepanjang 2026, sampai sekarang ini ada empat kasus yang sudah kita temukan, tiga orangnya sudah sembuh, bergejala ringan. Satu orangnya sekarang masih suspek, harus ditetapkan penegakan diagnosisnya melalui laboratorium, belum tegak, masih suspek," kata Ani di DPRD DKI Jakarta pada Senin, 11 Mei 2026.

Ani menjelaskan bahwa hantavirus bukan penyakit baru. Virus tersebut sudah lama dimonitor dan berbeda dengan COVID-19 yang tergolong penyakit baru atau new emerging disease.