Otoritas Iran dilaporkan telah menutup kembali Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon selatan. Penutupan ini terjadi di tengah perundingan antara Iran dan Amerika Serikat di Swiss setelah penandatanganan nota kesepahaman untuk menyelesaikan perang kedua negara.
Penutupan Berlangsung Hingga Gencatan Senjata Dipatuhi
Kantor berita Iran, Tasnim, mengutip sumber pejabat Iran yang familiar dengan tim negosiasi AS-Iran, melaporkan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali selama gencatan senjata di Lebanon tidak dihormati. Sumber tersebut juga mengatakan jalur air vital dunia itu akan tetap ditutup sampai izin yang memungkinkan penjualan minyak Iran dikeluarkan.
Senada dengan itu, kantor berita Iran lainnya, Fars, yang mengutip sumber militer, melaporkan bahwa Selat Hormuz tetap ditutup dan Angkatan Laut Garda Revolusi belum mengeluarkan izin bagi kapal mana pun untuk melintas sampai pemberitahuan lebih lanjut.
Latar Belakang dan Bantahan AS
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati gencatan senjata 60 hari untuk negosiasi kesepakatan perdamaian. Namun, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada hari Sabtu lalu menyatakan Selat Hormuz ditutup sebagai tanggapan terhadap serangan Israel di Lebanon, yang dianggap melanggar kesepakatan Iran dan AS untuk mengakhiri perang.
Militer AS membantah klaim tersebut, dengan mengatakan bahwa "lalu lintas tetap berjalan."
Gencatan Senjata Israel-Hizbullah
Sementara itu, seorang pejabat AS mengatakan bahwa Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon telah menyepakati gencatan senjata pada Jumat (19/6) lalu. Pengumuman ini muncul menyusul serangan udara bertubi-tubi oleh Israel di Lebanon selatan yang menewaskan 47 orang.
Dilansir BBC, kesepakatan terbaru ini tercapai di tengah kekhawatiran bahwa bentrokan yang terus berlanjut, termasuk serangan Hizbullah yang menewaskan empat tentara Israel di Lebanon, dapat merusak kesepakatan mengakhiri perang antara AS dan Iran.
Tanggapan Israel dan Hizbullah
Militer Israel membenarkan bahwa gencatan senjata telah diberlakukan. Namun, tak lama kemudian, seorang juru bicara menegaskan bahwa pasukannya akan "terus bergerak untuk melenyapkan ancaman yang datang seketika."
Pihak Hizbullah sendiri belum memberikan konfirmasi resmi terkait gencatan senjata ini. Meski begitu, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, menyatakan bahwa "rencana untuk melenyapkan Hizbullah telah gagal."



