Militer Iran menyampaikan protes keras terhadap kehadiran pesawat militer Amerika Serikat, baik berawak maupun tanpa awak, yang secara terus-menerus melintasi wilayah udara Selat Hormuz. Jalur perairan strategis ini telah lama menjadi titik perselisihan antara Teheran dan Washington. Pihak Iran memperingatkan bahwa aktivitas jet tempur dan drone AS di jalur vital pasokan minyak dan gas global itu mengancam stabilitas keamanan kawasan.
Peringatan Respons Cepat dan Tegas
Dalam pernyataan yang dilaporkan oleh kantor berita Fars News Agency pada Kamis (2/7/2026), Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya—markas operasional gabungan militer Iran—menegaskan bahwa mereka akan memberikan respons yang "cepat dan tegas" terhadap setiap campur tangan AS di Selat Hormuz. Menurut pernyataan tersebut, kehadiran jet tempur dan drone AS secara terus-menerus di atas Selat Hormuz "telah menimbulkan ketidakamanan di jalur perairan ini dan akan mengancam keamanan kawasan."
Kedaulatan Iran dan Garis Merah
Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya menekankan bahwa Iran "tidak akan ragu untuk mengambil tindakan apa pun" guna menangkis "setiap agresi dan pelanggaran oleh militer AS dan para pendukungnya demi mempertahankan kedaulatannya atas Selat Hormuz." Mereka menggambarkan Selat Hormuz sebagai "wilayah kedaulatan Republik Islam Iran" dan menyatakan bahwa keamanan serta stabilitas jalur perairan tersebut merupakan "garis merah" bagi militer Iran.
Aturan Navigasi Baru
Dalam pernyataan yang sama, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya menegaskan bahwa semua kapal tanker minyak dan kapal komersial harus menggunakan jalur navigasi yang ditetapkan oleh Iran saat melintasi Selat Hormuz. Setiap kapal yang gagal mematuhi jalur atau protokol navigasi yang ditetapkan Teheran akan menghadapi "respons langsung dan tegas" dari Angkatan Bersenjata Iran dan berisiko membahayakan keamanan mereka sendiri.
Latar Belakang Perjanjian dan Negosiasi
Iran dan AS sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada pertengahan Juni 2026, yang mengatur gencatan senjata 60 hari, pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran, dan pembukaan kembali sepenuhnya Selat Hormuz. Negosiasi teknis untuk menindaklanjuti MoU tersebut digelar dengan mediasi Pakistan dan Qatar. Negosiasi akan dilanjutkan kembali setelah Iran menyelesaikan seremoni pemakaman mantan pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei. Negosiasi teknis itu dijadwalkan membahas konsensus tentang status program nuklir Iran dan berupaya mengakhiri konflik secara permanen.



