Celurit di Tangan Pelajar Jakarta: Kasus Palmerah dan Koja Mengkhawatirkan
Celurit di Tangan Pelajar Jakarta: Kasus Palmerah dan Koja

Deretan kasus kejahatan jalanan dengan senjata tajam yang melibatkan pelajar kembali mencuat di Jakarta. Dalam sepekan terakhir, dua peristiwa di Palmerah, Jakarta Barat, dan Koja, Jakarta Utara, memperlihatkan bahwa senjata tajam masih dimanfaatkan remaja untuk melakukan aksi kejahatan. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa budaya kekerasan di kalangan pelajar belum sepenuhnya hilang.

Pembacokan di Palmerah

Kasus pertama terjadi di Palmerah, Jakarta Barat. Seorang pelajar berinisial DFR (17) menjadi korban pembacokan saat berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motor pada Selasa, 9 Juni 2026. Rekaman CCTV memperlihatkan korban diserang oleh pelajar dari sekolah lain di sebuah jalan setapak. Dalam video, terlihat sejumlah pelajar berboncengan sepeda motor melintas di jalan setapak. Dari arah berlawanan, korban yang tengah menuju sekolah berpapasan dengan rombongan pelaku.

Tak lama kemudian, salah satu pelaku memukul korban menggunakan ikat pinggang. Aksi itu memicu pelaku lainnya turun dari motor dan mengayunkan celurit ke arah korban. Korban yang terkejut sempat menghentikan sepeda motornya, namun begitu melihat senjata tajam diayunkan ke arahnya, ia langsung tancap gas menyelamatkan diri. Kapolsek Palmerah AKP Parman BM Nainggolan membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, kejadian berlangsung di Gang T, Kelurahan Palmerah, saat korban dalam perjalanan menuju sekolah. “Benar terjadi pada Selasa kemarin. Ini bukan tawuran, tetapi pembacokan yang dilakukan pelaku terhadap korban yang saat itu mau ke sekolah,” ujar Parman kepada wartawan, Kamis, 11 Juni 2026.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Menurut dia, rombongan pelaku dan korban tidak saling mengenal. Polisi masih mendalami motif penyerangan tersebut. Akibat serangan, korban mengalami luka dan harus mendapatkan tujuh jahitan. Polisi kemudian menangkap dua pelaku yang juga masih berstatus pelajar. Berdasarkan hasil penyelidikan, polisi memastikan peristiwa tersebut bukan tawuran, melainkan aksi pembacokan terhadap korban yang sedang menuju sekolah.

Tawuran di Koja Digagalkan

Belum reda kasus di Palmerah, polisi kembali menggagalkan potensi tawuran di kawasan Koja, Jakarta Utara. Tiga remaja diamankan saat diduga hendak melakukan tawuran. Ketiganya terdiri dari dua anak berhadapan dengan hukum (ABH) dan seorang pemuda berinisial MY (20). Dari tangan para remaja tersebut, polisi menyita sejumlah barang yang diduga akan digunakan dalam aksi kekerasan, antara lain celurit dan stik golf. Ketiganya kemudian dibawa ke kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Dansat Brimob Polda Metro Jaya Kombes Pol Henik Maryanto mengatakan, awalnya Tim Patra Ki 4 Yon B Pelopor Satbrimob Polda Metro Jaya bersama Tim Perintis Presisi melakukan patroli kewilayahan guna mengantisipasi gangguan kamtibmas pada malam hingga dini hari. “Saat melaksanakan patroli, petugas mendapati sekelompok pemuda yang diduga hendak melakukan tawuran. Tim kemudian segera melakukan pembubaran dan pengamanan untuk mencegah terjadinya gangguan kamtibmas,” kata Henik kepada wartawan, Minggu, 14 Juni 2026. Hasil pemeriksaan awal, ketiganya diduga berencana melakukan tawuran dengan kelompok dari wilayah Malaka. Namun sebelum bentrokan terjadi, petugas lebih dulu tiba di lokasi.

Imbauan Polisi

Dua peristiwa itu menunjukkan bahwa senjata tajam masih akrab dengan sebagian remaja di Jakarta. Pada kasus Palmerah, celurit sudah digunakan dan menyebabkan korban terluka. Sementara di Koja, aparat berhasil mencegah bentrokan sebelum memakan korban. Fenomena ini memperlihatkan bahwa persoalan tawuran dan kekerasan pelajar tidak hanya berhenti pada aksi di jalanan, tetapi juga menyangkut budaya kekerasan yang membuat senjata tajam seperti celurit menjadi bagian dari identitas kelompok.

Kasus Palmerah dan Koja menjadi pengingat bahwa mencegah kekerasan di kalangan pelajar tidak cukup hanya dengan penindakan hukum. Peran keluarga, sekolah, lingkungan sosial, hingga aparat keamanan diperlukan agar celurit tidak lagi menjadi simbol keberanian di tangan anak-anak usia sekolah. Henik mengingatkan para orang tua agar lebih memperhatikan aktivitas anak-anaknya, khususnya pada malam hingga dini hari, guna mencegah keterlibatan dalam aksi tawuran. “Kami mengimbau para orang tua untuk lebih memperhatikan aktivitas putra-putrinya. Peran keluarga dan lingkungan sangat penting dalam mencegah remaja maupun pemuda terlibat tawuran,” pungkas Henik.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga