Jakarta - Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bersama sejumlah menteri dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sunaryanto menggelar rapat kerja terkait anggaran. Dalam rapat tersebut, Sunaryanto mengungkapkan bahwa 1.051 bencana telah melanda Indonesia hingga pertengahan tahun 2026.
Hal itu disampaikan Sunaryanto saat rapat di Komisi VIII DPR, Jakarta Selatan, pada Rabu (10/6/2026). Ia mengingatkan semua pihak untuk waspada karena frekuensi bencana di Indonesia terus meningkat.
Peringatan Kepala BNPB
"Kami mohon untuk menjadi perhatian kita semua bahwa semakin hari, semakin minggu, semakin bulan, semakin tahun bencana di NKRI yang kita cintai semakin besar, baik jumlah kuantitas maupun kualitasnya," ujar Sunaryanto dalam rapat tersebut.
Ia melaporkan bahwa sejauh ini telah terjadi 1.051 bencana alam di Indonesia. Jumlah tersebut berdasarkan penanganan bencana oleh pemerintah pusat.
"Selanjutnya kami izin laporkan di tahun 2026 sampai kemarin ini kami sudah atau sudah terjadi 1.051 kali bencana. Sekali lagi ini bencana-bencana yang ditangani oleh Pemerintah Pusat melalui BNPB dan Kementerian Lembaga terkait. Tentu data kami hampir sama dengan data yang ada di Kemensos, karena di lapangan kami selalu bahu-membahu dan kerja sama," jelasnya.
Ancaman Bencana Hidrometeorologi Kering
Lebih lanjut, Sunaryanto menyebutkan bahwa pada pertengahan tahun 2026 ini kemungkinan akan banyak terjadi bencana hidrometeorologi kering. Salah satunya adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Untuk 2026 ini kami baru saja melewati bencana-bencana hidrometeorologi basah, dan kita akan memasuki bencana hidrometeorologi kering, jadi kebakaran hutan dan lahan," ungkapnya.
Ia juga menyinggung ancaman El Nino. Namun, ia memastikan bahwa ancaman El Nino saat ini masih pada tahap menengah atau moderat.
"Alhamdulillah meski beberapa waktu lalu ada informasi di 2026 ini ada kekeringan atau El Nino bahkan dikatakan Godzilla di media massa, tetapi ternyata dari BMKG nyatakan di 2026 ini masih El Nino moderat. Artinya masih banyak hujan, memang lebih panas dari 2025 tetapi belum masuk kekeringan ekstrem," tuturnya.
"Kami laporkan di Riau, Sumsel, Kalbar, dan Jambi ini sudah terjadi karhutla termasuk terakhir di Aceh Barat, namun ini belum bersifat perlu perhatian khusus," imbuhnya.



