AS Batalkan Pengerahan 4.000 Tentara ke Polandia, Polandia Terkejut
AS Batalkan Pengerahan 4.000 Tentara ke Polandia

Jakarta - Amerika Serikat (AS) secara mendadak mengumumkan pembatalan rencana pengerahan 4.000 tentaranya ke Polandia. Hingga saat ini, alasan di balik pembatalan tersebut masih menjadi tanda tanya besar.

Pembatalan ini terjadi seiring dengan keinginan Washington untuk mengatur ulang pasukannya di Eropa, setelah sebelumnya mengumumkan rencana penarikan ribuan pasukan dari Jerman.

Penjelasan Pejabat AS

Jenderal Christopher LaNeve, Pelaksana Tugas Kepala Staf Angkatan Darat AS, menyatakan bahwa Kepala Komando Eropa AS telah menerima instruksi terkait pengurangan pasukan. "Saya telah bekerja sama dengannya dalam konsultasi erat tentang unit pasukan apa yang akan digunakan, dan itu... paling masuk akal bagi brigade tersebut untuk tidak melakukan pengerahan di wilayah tersebut," ujar LaNeve dalam sidang kongres AS, merujuk pada Tim Tempur Brigade Lapis Baja ke-2.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Menurut jenderal tersebut, beberapa elemen unit telah dikirim ke luar negeri dan peralatannya sedang dalam perjalanan. Perintah pembatalan berasal dari kantor Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Menteri Angkatan Darat Dan Driscoll menambahkan bahwa pengerahan dibatalkan "beberapa hari yang lalu."

Reaksi Polandia

Anggota DPR Partai Republik, Don Bacon, mengungkapkan bahwa pemerintah Polandia tidak diberitahu sebelumnya. "Mereka menelepon saya kemarin. Mereka tidak tahu, mereka terkejut," kata Bacon. Ia menyebut pembatalan tersebut sebagai "tercela" dan "memalukan bagi negara kita."

Menteri Pertahanan Polandia, Wladyslaw Kosiniak-Kamysz, pada hari Jumat (15/5) menyatakan bahwa pembatalan pengerahan pasukan ke negaranya mungkin terkait dengan penarikan pasukan AS dari Jerman.

Penarikan Pasukan dari Jerman

Sebelumnya, pada awal bulan ini, Pentagon mengumumkan akan menarik 5.000 pasukan dari Jerman. Juru bicara Pentagon Sean Parnell mengatakan penarikan tersebut diperkirakan "akan selesai dalam enam hingga dua belas bulan ke depan." Pengumuman itu muncul di tengah perselisihan sengit antara Presiden AS Donald Trump dan Kanselir Jerman Friedrich Merz mengenai perang AS-Israel melawan Iran.

Presiden Donald Trump sebelumnya mengancam akan mengurangi jumlah pasukan AS di Jerman dan sekutu Eropa lainnya. Trump menekankan bahwa Eropa harus mengambil tanggung jawab lebih besar untuk pertahanannya sendiri, bukan bergantung pada Washington.

Reaksi Jerman

Jerman bereaksi keras setelah Trump berencana menarik 5.000 pasukannya. Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, mendesak Iran untuk membuka Selat Hormuz. "Sebagai sekutu dekat AS, kami memiliki tujuan yang sama: Iran harus sepenuhnya dan secara terverifikasi meninggalkan senjata nuklir dan segera membuka Selat Hormuz seperti yang juga dituntut oleh Menteri Luar Negeri (AS) Marco Rubio," tulis Wadephul di X.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga