Ancaman Ranjau di Selat Hormuz: Seberapa Mematikan Dampaknya?
Ancaman Ranjau di Selat Hormuz: Seberapa Mematikan?

Banyak Ranjau di Selat Hormuz, Seberapa Mematikan Dampaknya?

Jakarta - Kepala negara dan pemerintahan di Eropa menyambut baik usulan perjanjian damai antara Amerika Serikat dan Iran. Jerman, Prancis, Britania Raya, dan Italia membuka kemungkinan pencabutan sanksi terhadap Iran, sambil menekankan urgensi pembukaan kembali Selat Hormuz.

Dalam pernyataan bersama, keempat negara tersebut mengatakan bahwa mereka berkomitmen untuk memainkan peran mereka, termasuk melalui misi yang sepenuhnya bersifat defensif dan independen guna memberikan rasa aman bagi pelayaran komersial serta melakukan operasi pembersihan ranjau.

Bahaya bagi kapal dagang

Namun, sekalipun Selat Hormuz kembali dibuka untuk pelayaran, Teluk Persia dan wilayah sekitarnya tetap akan menjadi zona berbahaya bagi kapal-kapal dagang. Pada awal April, Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa Teheran telah menempatkan ranjau di selat tersebut.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"Kita bahkan belum yakin apakah benar ada ranjau di Selat Hormuz," kata Johannes Peters, pakar peperangan bawah laut dari Institute for Security Policy di Universitas Kiel. "Namun ancaman yang mendasarinya saja sudah cukup untuk menghalangi pelayaran. Untuk saat ini, tidak ada pihak di zona perang yang benar-benar bisa pergi dan memeriksanya."

Bagaimana cara kerja ranjau laut?

Ranjau laut merupakan perangkat peledak bawah air yang relatif murah dan dirancang untuk meledak ketika dipicu oleh kapal yang berada di dekatnya. Berdasarkan penempatannya, terdapat tiga jenis utama: ranjau hanyut yang mengapung bebas di permukaan atau dekat permukaan air, ranjau tambat yang mengapung di bawah permukaan air dan terhubung ke dasar laut, serta ranjau dasar yang berada di dasar laut.

Sepanjang Perang Dunia II, ranjau tambat yang dilengkapi tonjolan pemicu yang meledak ketika bersentuhan secara fisik dengan kapal merupakan ranjau laut standar Inggris. Jenis ini ditiru dari ranjau Jerman yang dikembangkan pada Perang Dunia I dan berhasil direbut Inggris. "Ranjau modern sudah sangat berbeda dari itu," ujar Peters kepada DW.

Mekanisme pemicu pada perangkat yang lebih baru tidak lagi memerlukan kontak langsung, melainkan dapat diaktifkan oleh efek magnetik tertentu, gelombang suara bawah air, atau perubahan tekanan bawah air yang ditimbulkan oleh kapal yang melintas. Untuk memprogram ranjau agar menargetkan kelas kapal tertentu, "kapal selam dapat membantu menentukan profil akustik kapal musuh," jelas Peters. "Kapal-kapal musuh tersebut akan memicu ranjau melalui tanda akustiknya, sementara kapal kawan dapat terus melintasi area yang dipasangi ranjau tanpa mengalami masalah."

Perburuan bahan peledak yang memakan waktu

Proses pembersihan ranjau, yang terdiri atas pendeteksian dan penyapuan ranjau, dapat memakan waktu lama. Dalam proses pendeteksian, objek mencurigakan harus terlebih dahulu ditemukan, kemudian para ahli menentukan apakah objek tersebut benar-benar menimbulkan ancaman. Jika memang berbahaya, ada beberapa cara untuk menanganinya: spesialis dapat mengangkat ranjau, melucuti perangkat tersebut, atau memicunya melalui ledakan bawah air yang terkendali. Peters membandingkan proses ini dengan "layanan penjinakan bahan peledak di bawah air."

Namun, perkembangan terbaru membuka peluang untuk membersihkan ranjau tanpa mempertaruhkan nyawa manusia. "Jika memungkinkan, kami menggunakan drone untuk mencari objek, lalu mengidentifikasi dan menghancurkannya," kata Mykola, seorang prajurit Ukraina, kepada DW awal tahun ini. Ia merupakan bagian dari satuan tugas Ukraina yang membersihkan ranjau laut di Laut Hitam yang dipasang Rusia sebagai bagian dari perang agresinya.

Angkatan Laut Jerman: Berburu ranjau dengan drone

Angkatan Laut Jerman juga mulai menggunakan drone untuk mendeteksi ranjau laut. "Kami sebagian besar menggunakan sistem otonom untuk menyisir dasar laut," kata Kapten Frigat Andreas dari Skuadron Penyapu Ranjau ke-3 Angkatan Laut Jerman kepada DW. Demi alasan keamanan, DW hanya diizinkan mempublikasikan nama depannya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

"Dulu, kapal yang dilengkapi sistem sonar harus melintasi langsung area yang dicurigai terdapat ranjau untuk mendeteksinya," ujar Andreas. "Sistem otonom berarti 40 nyawa itu tidak lagi harus menghadapi risiko secara langsung." Teknologi ini juga sangat mengurangi kebutuhan personel manusia karena drone secara mandiri mengirimkan rekaman dari dasar laut ke pusat kendali untuk dianalisis. Namun, manusia tetap diperlukan untuk meninjau rekaman tersebut guna membedakan antara sampah tak berbahaya dan ranjau mematikan, serta memutuskan bagaimana menangani bahan peledak yang ditemukan.

Andreas mengatakan bahwa penggunaan drone untuk menyisir dasar laut telah membuat angkatan laut lebih efisien secara keseluruhan. Meski demikian, dibutuhkan waktu puluhan tahun, atau bahkan lebih lama, untuk membersihkan suatu wilayah laut dari ranjau setelah perang berakhir. Artyom, penyapu ranjau Ukraina lainnya di Laut Hitam, mendukung penilaian tersebut berdasarkan pengalamannya sendiri.

"Kami masih menemukan ranjau dari Perang Dunia II, bahkan beberapa dari Perang Dunia I," katanya. "Itu menunjukkan betapa banyak pekerjaan yang masih harus kami lakukan selama bertahun-tahun ke depan."

Selat Hormuz: Terlalu sulit mengerahkan drone?

Kapasitas baterai drone yang digunakan Angkatan Laut Jerman saat ini masih membatasi lamanya perangkat tersebut dapat beroperasi di perairan terbuka. Untuk sementara, drone harus diluncurkan cukup dekat dengan area yang akan diperiksa. "Anda harus selalu berada cukup dekat," jelas Andreas. "Itu akan sulit dilakukan di wilayah yang sensitif, seperti Selat Hormuz. Persenjataan Iran memiliki jangkauan yang jauh, dan kami harus melindungi orang-orang yang bekerja untuk kami."

Sejumlah perusahaan kini tengah mengembangkan drone yang mampu beroperasi lebih lama. Salah satunya adalah Euroatlas di Bremen, Jerman utara. Perusahaan tersebut menyatakan bahwa drone bawah air Greyshark saat ini mampu melaju dengan kecepatan 10 knot selama enam jam, atau 4 knot selama tiga kali lebih lama. Euroatlas mengumumkan bahwa versi otonom bertenaga baterai akan mulai diproduksi pada September 2026. Produksi massal model berikutnya yang dilengkapi sistem sel bahan bakar sehingga mampu beroperasi selama berminggu-minggu diperkirakan dimulai pada akhir tahun.

Drone Greyshark segera dapat dikerahkan

Markus Beer, kepala penjualan untuk kendaraan bawah air otonom di Euroatlas, menjelaskan kepada DW bagaimana drone Greyshark dapat berguna dalam krisis saat ini di pesisir Iran. "Kapal-kapal di Selat Hormuz berisiko terkena tembakan dari daratan," katanya. "Itu juga berlaku bagi kapal pemburu ranjau. Namun, pengintaian bawah air dengan drone masih mungkin dilakukan, tanpa risiko dan tanpa memperkeruh situasi."

Beer menambahkan bahwa drone Greyshark memiliki keunggulan berupa jangkauan yang lebih luas sehingga dapat diluncurkan dari jarak yang aman. "Drone kecil yang saat ini digunakan untuk berburu ranjau hanya mampu bertahan beberapa jam," jelasnya. "Drone Greyshark dapat menempuh jarak yang jauh lebih jauh." Ia juga menekankan bahwa perangkat tersebut mampu mengambil gambar beresolusi tinggi dan secara mandiri mengidentifikasi objek yang ditemukan di dasar laut.

September lalu, Euroatlas mendemonstrasikan kemampuan drone bawah air Greyshark dalam ajang terkemuka dunia untuk pengujian sistem maritim nirawak, Robotic Experimentation and Prototyping using Maritime Unmanned Systems, yang diselenggarakan di lepas pantai Portugal.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris. Diadaptasi oleh Rahka Susanto. Editor: Rizki Nugraha.