Lebih dari 640 Ribu Pengungsi Kembali ke Rumah
Konflik antara Hizbullah dan Israel yang telah berlangsung sejak Maret 2026 akhirnya mereda. Lebih dari 640 ribu warga Lebanon yang sebelumnya mengungsi kini mulai kembali ke rumah masing-masing. Hal ini disampaikan oleh Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) dalam laporan terbaru mereka.
Latar Belakang Konflik
Lebanon terseret ke dalam perang regional pada 2 Maret 2026, ketika Hizbullah yang didukung Iran menembakkan roket ke arah Israel sebagai balasan atas tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel. Israel kemudian merespons dengan serangan udara besar-besaran dan invasi ke Lebanon selatan. Hingga saat ini, pasukan Israel masih menduduki sebagian wilayah di sana.
Korban dan Pengungsian
Otoritas Lebanon mencatat bahwa serangan Israel telah menewaskan sekitar 4.300 orang dan menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi. Sebagian besar pengungsi berasal dari wilayah Lebanon selatan dan pinggiran selatan Beirut. Kondisi ini menimbulkan krisis kemanusiaan yang parah di negara tersebut.
Gencatan Senjata dan Kepulangan Pengungsi
Sebuah kesepakatan yang ditandatangani oleh Teheran dan Washington pada bulan lalu menetapkan gencatan senjata di Lebanon yang mulai berlaku pada 21 Juni 2026. Sejak saat itu, ratusan ribu orang telah kembali ke rumah mereka di Lebanon selatan dan pinggiran selatan Beirut. Menurut laporan IOM pada hari Kamis, sebanyak 646.107 orang pengungsi internal telah mulai kembali ke komunitas mereka. Sementara itu, sekitar 500.000 orang lainnya masih dalam status mengungsi. Data ini dikumpulkan melalui koordinasi dengan otoritas setempat sejak 22 Juni.
Dampak dan Tantangan ke Depan
Kepulangan para pengungsi merupakan langkah positif, namun masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Infrastruktur di wilayah yang terkena dampak perang mengalami kerusakan parah, dan proses rekonstruksi diperkirakan akan memakan waktu lama. Selain itu, masih adanya pendudukan Israel di sebagian wilayah Lebanon selatan menjadi sumber ketegangan yang belum terselesaikan. Masyarakat internasional terus mendesak kedua belah pihak untuk mematuhi gencatan senjata dan mencari solusi damai jangka panjang.



