Wapres Iran Kutuk Keras Serangan AS-Israel ke Sekolah Dasar Putri
Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad-Reza Aref, dengan tegas mengutuk serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan sebuah sekolah dasar putri di wilayah selatan Iran. Serangan mematikan tersebut telah mengakibatkan korban jiwa mencapai 108 orang, berdasarkan laporan terbaru yang dikeluarkan oleh kantor berita resmi IRNA pada Minggu (1/3).
Serangan Dinilai Sebagai Kejahatan Perang
Dalam pernyataannya yang dikutip oleh IRNA, Aref menyatakan bahwa insiden ini merupakan contoh nyata dari kejahatan perang dan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum serta peraturan internasional yang berlaku. Ia menegaskan bahwa serangan semacam ini tidak akan dibiarkan berlalu tanpa adanya hukuman yang setimpal.
"Keamanan dan martabat bangsa Iran adalah garis merah kami dan tidak ada agresi yang akan dibiarkan tanpa konsekuensi," tegas Aref dalam pesannya. Ia berjanji bahwa Iran akan memberikan tanggapan yang kuat dan proporsional kepada pihak Amerika Serikat dan Israel sebagai balasan atas tindakan agresif tersebut.
Iran Akan Gunakan Semua Jalur Hukum dan Politik
Lebih lanjut, Wakil Presiden Iran itu mengungkapkan bahwa pemerintahannya akan memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki, baik dari segi hukum, politik, maupun diplomasi internasional, untuk menindaklanjuti kasus kejahatan perang ini di berbagai badan internasional. Aref juga berharap agar komunitas internasional turut mengambil sikap dan tidak tinggal diam menyaksikan aksi militer yang telah menelan banyak korban jiwa tersebut.
Serangkaian serangan yang dilancarkan oleh AS dan Israel ke wilayah Iran telah berlangsung sejak Sabtu (28/2) pagi waktu setempat. Salah satu sasaran utama dari serangan tersebut adalah Sekolah Dasar Putri Shajareh Tayyebeh yang terletak di kota Minab, Provinsi Hormozgan.
Dampak dan Kebijakan Lanjutan Pemerintah Iran
Menyusul insiden memilukan ini, pemerintah Iran telah mengambil sejumlah kebijakan darurat sebagai bentuk respons. Salah satu langkah signifikan yang diumumkan adalah penutupan sementara seluruh universitas di seluruh penjuru negara tersebut. Kebijakan ini diambil untuk mengantisipasi kemungkinan eskalasi konflik lebih lanjut dan memastikan keamanan warga sipil, khususnya di lingkungan pendidikan.
Laporan korban jiwa yang terus bertambah hingga angka 108 orang semakin mempertegas betapa brutalnya serangan yang terjadi. Insiden ini tidak hanya mencoreng perdamaian regional, tetapi juga menimbulkan duka mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat Iran secara keseluruhan.
