Klaim Lemahkan Iran, Trump Kini Minta Bantuan Inggris-China di Selat Hormuz
Trump Minta Bantuan Inggris-China di Selat Hormuz

Klaim Lemahkan Iran, Trump Kini Minta Bantuan Inggris-China di Selat Hormuz

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sebelumnya mengklaim telah melemahkan Iran dan menyatakan perang akan segera berakhir, kini mengubah nada dengan meminta bantuan internasional. Dalam perkembangan terbaru, Trump mendesak Inggris dan negara-negara lain untuk mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang ditutup oleh Iran.

Desakan Trump untuk Keamanan Selat Hormuz

Melalui platform Truth Social pada Sabtu, 14 Maret 2026, Trump menyerukan agar "banyak negara" bergabung dengan Amerika Serikat dalam mengamankan Selat Hormuz. Dia secara khusus menyebut China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris sebagai pihak yang diharapkan mengirimkan kapal perang. Trump berargumen bahwa langkah ini diperlukan untuk menjaga selat tersebut "tetap terbuka dan aman" dari ancaman Iran, yang menurutnya telah "dilumpuhkan 100%" secara militer.

Meski mengklaim kehancuran kemampuan militer Iran, Trump mengakui bahwa Teheran masih mampu melancarkan serangan terbatas, seperti mengirim drone, menjatuhkan ranjau, atau meluncurkan rudal jarak dekat di sekitar selat. Dia menegaskan, "Amerika Serikat akan membombardir garis pantai habis-habisan, dan terus menembak jatuh kapal-kapal Iran. Dengan satu atau lain cara, kita akan segera membuka, mengamankan, dan membebaskan Selat Hormuz!"

Respons Inggris dan Ancaman Iran

Menanggapi seruan Trump, Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan sedang membahas berbagai opsi dengan sekutu untuk memastikan keamanan pelayaran di kawasan tersebut. Namun, Iran bersikeras akan terus memblokir Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia, dengan sekitar 20% pasokan minyak global melewatinya. Penutupan ini telah menyebabkan kenaikan harga minyak global yang signifikan, diperparah oleh serangan terhadap infrastruktur pelayaran dan energi sejak perang dimulai.

Militer Iran mengancam akan menghancurkan infrastruktur minyak dan energi milik perusahaan yang bekerja sama dengan AS jika pulau Kharg, tempat infrastruktur minyak vital Iran berada, diserang. Teheran juga meningkatkan serangan terhadap target energi di Teluk sebagai bagian dari respons terhadap serangan AS dan Israel, serta memperingatkan bahwa kapal tanker menuju AS, Israel, atau mitranya adalah target sah.

Kondisi Terkini dan Konflik Diplomatik

Operasi Perdagangan Maritim Inggris melaporkan bahwa 16 kapal telah diserang di dalam dan sekitar Selat Hormuz sejak perang dimulai pada 28 Februari. Saat ini, Angkatan Laut AS pun tidak mengawal kapal tanker melalui jalur sempit tersebut, menunjukkan kompleksitas situasi.

Pesan Trump ini muncul seminggu setelah dia menyatakan AS tidak membutuhkan Inggris untuk mengirim kapal induk ke wilayah tersebut, bahkan menuduh Perdana Menteri Sir Keir Starmer berusaha "bergabung dalam perang setelah kita sudah menang". Trump juga mengkritik Starmer karena tidak bergabung dalam serangan awal dan menolak izin penggunaan pangkalan Inggris, menyebutnya "bukan Winston Churchill". Starmer kemudian menyetujui tindakan defensif AS dari pangkalan Inggris, menegaskan respons Iran sebagai ancaman bagi Inggris.

Kapal perang Inggris, HMS Dragon, telah berangkat ke Siprus untuk memperkuat kehadiran militer di wilayah tersebut, meski Inggris telah menarik kemampuan penyapu ranjau dari Bahrain. Pemerintah Inggris menekankan komitmennya dalam melindungi personel militer dan keamanan regional melalui peningkatan kehadiran Angkatan Udara.