Trump Sebut Kuba Ingin Buat Kesepakatan, Sinyal Serangan Usai Perang Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa Kuba ingin membuat kesepakatan dengan pemerintahannya. Pernyataan ini disampaikan Trump dalam acara 'Shield of the Americas' pada Sabtu (7/3/2026), seperti dilansir Reuters. Trump menggambarkan situasi Kuba saat ini sebagai 'sudah di ujung tanduk', menandakan tekanan yang semakin meningkat terhadap negara Karibia tersebut.
Negosiasi dengan Marco Rubio
Dalam pidatonya, Trump mengungkapkan bahwa Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, akan memimpin negosiasi dengan pemerintah Kuba. "Mereka ingin bernegosiasi, dan mereka sedang bernegosiasi dengan Marco (Rubio) dan saya, serta beberapa orang lain, dan saya yakin kesepakatan dengan Kuba akan tercapai dengan mudah," kata Trump. Pernyataan ini menunjukkan optimisme dari pihak AS meskipun hubungan kedua negara tetap tegang.
Ancaman Militer Setelah Perang Iran
Trump sebelumnya telah memperbarui ancamannya untuk menumbangkan pemerintah Kuba. Dia mengisyaratkan bahwa aksi militer AS terhadap Kuba dapat dilakukan setelah pemerintahannya menuntaskan perang melawan Iran. Pernyataan ini, seperti dilaporkan Al Jazeera dan CNBC pada Jumat (6/3), disampaikan Trump di Gedung Putih pada Kamis (5/3) saat kunjungan tim sepak bola Inter Miami, juara Major League Soccer 2025.
Trump berterima kasih kepada Menlu AS Marco Rubio, yang disebutnya telah melakukan "pekerjaan fantastis" di Kuba. Pemerintahan AS telah memperketat sanksi-sanksi yang bertujuan untuk menekan perekonomian pulau tersebut, sebagai bagian dari upaya untuk menggulingkan pemerintahan komunis Kuba.
Pernyataan di Hadapan Komunitas Kuba
Dalam kesempatan itu, Trump juga menyampaikan pesan kepada hadirin yang kebanyakan berasal dari Miami, termasuk orang-orang keturunan Kuba. "Kami pikir kami ingin menyelesaikan yang ini (perang Iran-red) terlebih dahulu, tetapi itu hanya masalah waktu, sebelum Anda dan banyak orang luar biasa akan kembali ke Kuba," ujarnya. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Trump mempertimbangkan langkah kebijakan luar negeri besar lainnya, kurang dari seminggu setelah konflik militer yang meningkat di Timur Tengah.
Konteks Hubungan AS-Kuba
Trump dan sekutu-sekutunya sering mengancam Havana, meningkatkan tekanan ekonomi dengan tujuan menggulingkan pemerintahan komunis Kuba. Isyarat Trump soal Kuba itu disampaikan setelah dia membanggakan perang di Iran, dengan mengklaim militer AS dan Israel terus "menghancurkan musuh sepenuhnya". Situasi ini menunjukkan dinamika kompleks dalam kebijakan luar negeri AS di bawah kepemimpinan Trump, yang terus menekan negara-negara seperti Iran dan Kuba sambil membuka ruang untuk negosiasi.
Dengan pernyataan terbaru ini, dunia internasional kembali mengamati perkembangan hubungan AS-Kuba, yang telah lama diliputi ketegangan dan sanksi ekonomi. Masa depan negosiasi dan potensi aksi militer akan sangat bergantung pada penyelesaian perang AS dengan Iran, yang saat ini menjadi fokus utama administrasi Trump.
