Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuat pernyataan mengejutkan dengan mengklaim bahwa AS dan Iran akan menandatangani kesepakatan damai pada hari ini. Menurutnya, penandatanganan dokumen bersejarah tersebut direncanakan berlangsung di Islamabad, Pakistan, menandai momen penting dalam hubungan kedua negara yang telah lama tegang.
Klaim Trump dalam Wawancara Telepon
Dilansir dari Anadolu Agency pada Senin, 20 April 2026, klaim ini disampaikan Trump kepada reporter Fox News, Maria Bartiromo, dalam sebuah wawancara via telepon. Namun, detail waktu percakapan telepon tersebut belum diketahui secara pasti, menimbulkan pertanyaan tentang konteks dan validitas pernyataan tersebut.
Trump sebelumnya telah mengeluarkan peringatan keras, menyatakan bahwa jika tidak ada kesepakatan yang ditandatangani, ia akan "meledakkan setiap pembangkit listrik dan jembatan di Iran." Pernyataan ini mencerminkan tekanan yang terus meningkat dalam dinamika hubungan bilateral yang kompleks.
Respons Iran dan Pakistan
Hingga saat ini, Iran belum mengonfirmasi klaim Trump atau mengumumkan keputusan resmi untuk mengirim delegasi ke Islamabad. Namun, sumber-sumber dari Pakistan yang dikutip oleh New York Post mengindikasikan bahwa Teheran "bersedia untuk putaran kedua" negosiasi, meskipun "belum ada keputusan yang diambil mengenainya." Hal ini menunjukkan ketidakpastian dan keraguan dari pihak Iran.
Pada hari Minggu, 19 April 2026, Trump mengumumkan bahwa Wakil Presiden AS JD Vance, bersama dengan utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner, akan melakukan perjalanan ke Islamabad. Mereka ditunjuk sebagai delegasi AS dalam putaran negosiasi baru dengan Iran, menandai upaya diplomatik yang intensif.
Latar Belakang Pertemuan AS-Iran
Pakistan sebelumnya menjadi tuan rumah pertemuan tingkat tinggi langsung pertama antara AS dan Iran pada tanggal 11-12 April. Momen tersebut merupakan kontak pertama sejak kedua negara memutuskan hubungan diplomatik pada tahun 1979, namun pembicaraan itu berakhir tanpa terobosan signifikan, meninggalkan harapan yang belum terpenuhi.
Iran Ragu untuk Hadir
Iran saat ini dilaporkan tidak berencana untuk menghadiri pembicaraan dengan Amerika Serikat. Kabar ini muncul setelah Trump memerintahkan negosiator AS ke Pakistan hanya beberapa hari sebelum gencatan senjata di Timur Tengah berakhir, menambah ketegangan regional.
Dilansir dari AFP, blokade AS yang sedang berlangsung terhadap pelabuhan Iran telah menjadi titik permasalahan yang signifikan. Masalah ini kemungkinan akan semakin rumit dengan pengumuman Trump pada Minggu, 19 April 2026, bahwa sebuah kapal perusak Amerika telah menembak dan mengenai kapal Iran yang mencoba menghindarinya, memperburuk situasi keamanan.
Stasiun penyiaran pemerintah Iran, IRIB, pada Minggu mengutip sumber-sumber Iran yang mengatakan "saat ini tidak ada rencana untuk berpartisipasi dalam putaran pembicaraan Iran-AS berikutnya." Pernyataan ini didukung oleh kantor berita Fars dan Tasnim, yang mengutip sumber anonim bahwa "suasana keseluruhan tidak dapat dinilai sangat positif," dengan menekankan bahwa pencabutan blokade AS adalah prasyarat untuk negosiasi.
Sementara itu, IRNA yang dikelola pemerintah Iran menunjuk pada blokade dan "tuntutan yang tidak masuk akal dan tidak realistis" dari Washington, menyimpulkan bahwa "dalam keadaan ini, tidak ada prospek yang jelas untuk negosiasi yang bermanfaat." Hal ini menggarisbawahi hambatan besar yang masih harus diatasi untuk mencapai perdamaian.



