Trump Desak Sekutu Buka Blokade Selat Hormuz, Ancam NATO dan Tunda Pertemuan dengan Xi
Trump Desak Sekutu Buka Blokade Selat Hormuz, Ancam NATO

Trump Desak Sekutu Buka Blokade Selat Hormuz, Ancam NATO dan Tunda Pertemuan dengan Xi

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka meminta bantuan dari sekutu-sekutunya untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang saat ini diblokir oleh Iran. Dalam seruan yang disampaikan melalui berbagai platform, Trump tidak hanya mendesak negara-negara seperti Inggris dan China untuk mengirimkan kapal perang, tetapi juga mengumbar ancaman bagi mereka yang enggan membantu, termasuk implikasi serius bagi masa depan aliansi NATO.

Blokade Iran dan Dampaknya pada Pasar Energi Global

Iran secara resmi menutup Selat Hormuz sejak awal Maret 2026 sebagai respons atas serangan gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Penutupan selat ini telah mengganggu jalur vital perdagangan energi global, mengingat sekitar 20% pasokan minyak dunia biasanya melintasi perairan tersebut. Akibatnya, harga minyak global mengalami kenaikan yang signifikan, menciptakan gejolak di pasar energi internasional.

Trump, dalam pernyataannya di platform Truth Social, mengklaim bahwa "100% kemampuan militer Iran" telah dihancurkan. Namun, dia mengakui bahwa Teheran masih memiliki kemampuan untuk mengirim drone, menjatuhkan ranjau, atau meluncurkan rudal jarak dekat di sepanjang jalur air tersebut. Oleh karena itu, dia mendesak negara-negara yang bergantung pada minyak dari kawasan Teluk untuk turun tangan.

Seruan Trump kepada Sekutu dan Tanggapan yang Beragam

Presiden AS itu secara khusus meminta Inggris, China, Prancis, Jepang, dan Korea Selatan untuk mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz. Dia menegaskan bahwa "banyak negara" akan bergabung dengan AS untuk menjaga selat tersebut tetap terbuka dan aman. Namun, tanggapan dari sekutu-sekutu tersebut beragam:

  • Inggris: Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan sedang membahas berbagai opsi dengan sekutu untuk memastikan keamanan pelayaran, tetapi belum mengambil keputusan konkret.
  • Jepang dan Australia: Kedua negara ini secara tegas menolak permintaan Trump. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan bahwa negaranya, yang terikat konstitusi pasifis, tidak memiliki rencana mengirim kapal perang. Sementara itu, Australia menyatakan tidak diminta dan tidak akan berpartisipasi.
  • Jerman: Pemerintah Jerman menolak keterlibatan, dengan juru bicara menyatakan bahwa perang ini "tidak ada hubungannya dengan NATO" dan partisipasi tidak dipertimbangkan.

Ancaman terhadap NATO dan Pertemuan dengan China

Trump tidak segan mengancam masa depan NATO jika sekutu-sekutu AS tidak membantu membuka Selat Hormuz. Dalam wawancara dengan Financial Times, dia memperingatkan bahwa aliansi tersebut akan menghadapi "masa depan yang sangat buruk" tanpa dukungan ini. Selain itu, dia mengindikasikan kemungkinan menunda pertemuan puncak dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing, sebagai upaya untuk mendesak bantuan China dalam mengamankan selat tersebut.

"Kami ingin tahu sebelum pertemuan itu," kata Trump, menekankan bahwa China dan banyak negara Eropa lebih bergantung pada minyak dari Teluk daripada AS. Dia menambahkan bahwa "sudah sepatutnya orang-orang yang mendapat manfaat dari Selat Hormuz membantu memastikan tidak ada hal buruk yang terjadi di sana."

Dampak pada Pasar dan Ketidakpastian yang Berlanjut

Ketidakpastian mengenai durasi perang melawan Iran telah mengguncang pasar minyak, dengan harga minyak mentah Brent melonjak di atas US$ 104,50. Pasar saham regional juga melemah menyusul komentar Trump tentang melibatkan sekutu dalam konflik ini. Blokade Selat Hormuz terus mengganggu pasokan energi global, mendorong kekhawatiran akan stabilitas ekonomi internasional.

Trump mengungkapkan bahwa pemerintahannya telah menghubungi sekitar tujuh negara untuk mendapatkan bantuan, meskipun tidak menyebutkan nama-nama negara tersebut. Dia menegaskan bahwa AS akan terus membombardir garis pantai Iran dan menembak jatuh kapal-kapal mereka, dengan tujuan akhir membuka dan mengamankan Selat Hormuz.

Dengan situasi yang terus berkembang, dunia menunggu tanggapan lebih lanjut dari sekutu-sekutu AS dan langkah-langkah Iran dalam merespons tekanan internasional ini. Blokade Selat Hormuz tetap menjadi titik kritis dalam konflik Timur Tengah yang lebih luas.