Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan tidak akan mengizinkan Iran memungut biaya atau tol bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Uniknya, Trump justru mengisyaratkan bahwa AS kemungkinan besar yang akan memberlakukan tarif tersebut jika kesepakatan jangka panjang gagal tercapai.
Pernyataan Kontroversial Trump
Pernyataan kontroversial ini disampaikan Trump melalui unggahannya di media sosial Truth Social pada Sabtu (20/6/2026) sore waktu setempat. Isu pemungutan biaya ini menjadi sinyal terbaru bahwa Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MOU) gencatan senjata yang baru saja ditandatangani kedua belah pihak mulai menunjukkan tanda-tanda keretakan.
Dalam unggahannya, Trump menulis, "Iran tidak akan pernah diizinkan memungut tol di Selat Hormuz. Jika mereka mencoba, AS akan mengambil tindakan tegas. Justru kami yang mungkin akan memberlakukan tarif jika kesepakatan tidak tercapai." Pernyataan ini langsung memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk analis geopolitik yang menilai bahwa retorika Trump semakin memperumit situasi di kawasan.
Dampak Potensial bagi Pelayaran Global
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 persen dari total pasokan minyak dunia. Jika AS benar-benar memberlakukan tarif, hal ini dapat memicu kenaikan harga minyak global dan mengganggu rantai pasok energi. Para pengamat memperingatkan bahwa langkah tersebut berpotensi memicu konflik langsung antara AS dan Iran.
Sejauh ini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Iran. Namun, sumber di Kementerian Luar Negeri Iran menyebutkan bahwa mereka akan merespons secara proporsional terhadap setiap ancaman. "Kami tidak akan tinggal diam jika kedaulatan kami dilanggar," kata seorang pejabat Iran yang enggan disebut namanya.
Keretakan Kesepakatan Gencatan Senjata
Nota Kesepahaman gencatan senjata yang ditandatangani beberapa pekan lalu sempat meredakan ketegangan. Namun, pernyataan Trump ini dianggap sebagai pukulan telak bagi upaya diplomasi. Analis internasional menilai bahwa sikap Trump yang tidak konsisten justru memperlemah posisi AS di mata mitra-mitra regionalnya.
"Pernyataan ini menunjukkan bahwa AS tidak serius dalam mencapai solusi damai. Mereka justru ingin memaksakan kehendak melalui tekanan ekonomi dan militer," ujar seorang analis dari Middle East Institute. Sementara itu, sekutu AS seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab belum memberikan komentar resmi, namun diperkirakan mereka akan memantau perkembangan dengan cermat.
Dengan meningkatnya retorika, dunia kini menanti langkah selanjutnya dari kedua negara. Apakah akan terjadi eskalasi militer atau justru kembali ke meja perundingan? Yang jelas, Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian global.



