Trump Ancam Hancurkan Kapal Iran di Selat Hormuz, Blokade AS Belum Berlaku
Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran, menyatakan akan menghancurkan kapal-kapal negara tersebut jika mendekati blokade angkatan laut AS di Selat Hormuz. Peringatan ini dilontarkan di tengah seruan internasional untuk menghormati gencatan senjata dan melanjutkan negosiasi damai.
Blokade yang Belum Diberlakukan
Dilansir dari AFP pada Senin (13/4/2026), militer AS sebelumnya menyatakan bahwa blokade akan dimulai pukul 14.00 GMT dan berlaku untuk semua kapal yang meninggalkan atau berusaha berlabuh di pelabuhan Iran. Namun, setelah batas waktu tersebut berlalu, tidak ada pengumuman resmi bahwa tindakan blokade telah diberlakukan, menimbulkan ketidakpastian di kawasan.
Dalam unggahan media sosial, Trump menegaskan bahwa sebagian besar angkatan laut Iran telah dihancurkan selama perang. Namun, dia memperingatkan bahwa jika ada yang disebutnya sebagai beberapa "kapal serang cepat" Teheran yang tersisa mendekati blokade, "mereka akan segera dihapus".
Latar Belakang Blokade dan Negosiasi
Trump mengumumkan blokade Selat Hormuz pada hari Minggu, setelah delegasi yang dipimpin oleh Wakil Presiden AS JD Vance kembali dari pertemuan dengan pejabat Iran di Pakistan tanpa mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang. Konflik ini dimulai pada 28 Februari dengan serangan mematikan AS dan Israel terhadap Teheran.
Pada Rabu lalu, AS dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua minggu untuk memungkinkan negosiasi berjalan. Mediator Pakistan dan Qatar terus menyerukan agar gencatan senjata tersebut dihormati seiring dengan upaya diplomatik yang berlanjut.
"Gencatan senjata masih berlaku dan saat saya berbicara, upaya penuh sedang dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan," kata Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dalam rapat kabinet.
Respons Internasional dan Dampak Ekonomi
Kepala Organisasi Maritim Internasional, Sekretaris Jenderal Arsenio Dominguez, menegaskan bahwa tidak ada negara yang dapat "melarang hak lintas damai atau kebebasan navigasi melalui selat internasional yang digunakan untuk transit internasional".
Menteri Luar Negeri dan Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mendesak kedua belah pihak untuk menjamin kebebasan navigasi dan menahan diri dari menggunakan jalur maritim "sebagai alat untuk menekan". Dia mendorong Teheran dan Washington untuk tetap berhubungan dengan mediator.
Di sisi lain, Iran telah menutup Selat Hormuz untuk kapal-kapal yang dianggapnya sebagai musuh, hanya mengizinkan kapal yang melayani negara-negara bersahabat seperti China untuk menyeberang.
Harga minyak, yang sempat anjlok setelah gencatan senjata, melonjak sekitar delapan persen pada hari Senin. Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran bahwa kebuntuan negosiasi yang kembali terjadi dapat menghalangi lebih banyak kapal tanker dan mengganggu pasokan energi global.



