Rusia dan China Veto Resolusi PBB untuk Buka Kembali Selat Hormuz yang Ditutup Iran
Rusia-China Veto Resolusi PBB Buka Selat Hormuz

Rusia dan China Veto Resolusi PBB untuk Buka Kembali Selat Hormuz yang Ditutup Iran

New York - Dalam perkembangan terkini di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Rusia dan China telah menggunakan hak veto mereka untuk menolak rancangan resolusi yang bertujuan membuka kembali Selat Hormuz. Selat strategis ini ditutup oleh Iran menyusul serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke wilayahnya.

Hasil Pemungutan Suara dan Dampak Ekonomi

Berdasarkan laporan dari Associated Press, Al-Jazeera, dan situs resmi PBB pada Selasa, 7 April 2026, pemungutan suara tersebut menghasilkan 11 suara mendukung, dua suara menentang dari Rusia dan China, serta dua suara abstain. Pemungutan suara ini berlangsung hanya beberapa jam sebelum batas waktu pukul 8 malam waktu Timur yang ditetapkan oleh Presiden AS Donald Trump bagi Iran untuk membuka jalur air tersebut atau menghadapi serangan terhadap infrastruktur seperti pembangkit listrik dan jembatan.

Selat Hormuz merupakan jalur kritis bagi perdagangan minyak global, dengan sekitar seperlima pasokan minyak dunia biasanya melewati selat ini. Penutupan oleh Iran selama konflik telah menyebabkan lonjakan harga energi di pasar internasional, menambah tekanan pada ekonomi global yang sudah rapuh.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Inisiatif Resolusi dan Upaya Diplomasi

Rancangan resolusi ini diprakarsai oleh Bahrain dan anggota Dewan Kerja Sama Teluk, termasuk Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, bersama dengan Yordania. Mereka berupaya mengatasi ancaman terhadap keamanan maritim dan kebebasan navigasi di jalur perairan strategis tersebut. Selat Hormuz awalnya terbuka bagi pelayaran internasional, namun ditutup sebagai respons langsung atas serangan AS dan Israel terhadap Iran.

Presiden Trump telah meminta bantuan negara-negara lain untuk membuka selat tersebut, namun upaya ini ditolak. Trump juga mengancam akan menghancurkan Iran jika tidak membuka selat tersebut, menambah ketegangan dalam konflik yang sudah memanas.

Posisi Iran dan Kondisi Pembukaan

Di sisi lain, Iran bersikeras untuk tetap menutup Selat Hormuz. Pemerintah Iran menyatakan bahwa selat tersebut akan dibuka hanya jika ada ganti rugi terhadap kerusakan di dalam negeri akibat perang yang dimulai oleh AS dan Israel sejak 28 Februari 2026. Sikap ini menunjukkan bahwa Iran mengaitkan pembukaan selat dengan kompensasi finansial atau politik, memperumit upaya resolusi damai.

Dengan veto dari Rusia dan China, jalan diplomatik untuk membuka Selat Hormuz menjadi terhambat, meninggalkan ketidakpastian bagi stabilitas kawasan dan ekonomi global. Situasi ini menegaskan perlunya mediasi internasional yang lebih kuat untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga